Bebas Biaya Masuk Museum Radya Pustaka Selalu Ramai Pengunjung

Mengenal Museum Radya Pustaka asal usul dan jejak berdirinya dari awal hingga kaitannya terhadap proses sengketa perebutan lahan Taman Sriwedari

Bebas Biaya Masuk Museum Radya Pustaka Selalu Ramai Pengunjung
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Suasana gerbang depan Museum Radya Pustaka 
Suasana gerbang depan Museum Radya Pustaka
Suasana gerbang depan Museum Radya Pustaka (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

TribunSoloWiki.com - Museum Radya Pustaka merupakan salah satu bangunan yang terletak di area kompleks Taman Sriwedari sebelah timur. Berada di Jalan Slamet riyadi, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Solo.

Didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh KRA Sosrodiningrat IV salah seorang Pepatih dalem Keraton Surakarta.

Secara makna Radya Pustaka diambil dari kata Radya yang bermakna negara atau keraton dan Pustaka bermana perpustakaan. Sehingga maknanya adalah perpustakaan milik negara.

Secara arsitektur Museum Radya Pustaka mengikuti gaya Belanda.

Dikarenakan pemiliknya terdahulu adalah seorang Belanda yang bernama Johannes Busselaar dan kemudian dibeli oleh Sri Susuhan Pakubuwono X dan akhirnya pada 1 Januari 1913 diserahkan pada Paheman Radya Pustaka untuk menjadi museum.

Bangunan tersebut memiliki luas keseluruhan adalah 523,24 meter persegi.

Terdiri atas ruang pameran 389,48 meter persegi, ruang perpustakaan 33,76 meter persegi dan ruang perkantoran 100 meter persegi.

Koleksi museum ini berupa benda-benda kuno peninggalan sejarah, seperti arca pusaka, wayang kulit peralatan musik tradisional hingga pakaian kerajaan yang usianya mencapai ratusan tahun.

Dilansir dari travel.kompas.com, pengelola Museum Radya Pustaka, Kurnia Heniwati menjelaskan terdapat 400 naskah yang kesemuanya merupakan hasil tulisan tangan.

Di antara yang tertua adalah dibuat pada tahun 1729 di era pemerintahan Pakubuwono I.

Sementara itu yang paling belia dibuat pada tahun 1950an yang mengisahkan percintaan antara seorang wanita Cina dan Pakubuwono VI.

Mengenai pengunjung yang hadir, berasal dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa hingga profesional.

Dinas Pariwisata Pemerintah Surakarta melalui Kepala Seksi Bidang Pengelolaan Kawasan Strategis pariwisata juga menjelaskan bahwa Museum Radya Pustaka sengaja tidak ditarik biaya retribusi agar dapat menarik wisatawan.

Cara itu terbukti ampuh dengan hadirnya banyak wisatawan meskipun bukan di hari libur. 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com
Muhammad Irfan Al Amin

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved