Tembok Sriwedari Pernah Mengalami Keruntuhan di Balik Perebutan Lahan

Cerita mengenai runtuhnya tembok Sriwedari dan masyarakat yang selalu mengaitkannya dengan mitos dan takahayul

Tembok Sriwedari Pernah Mengalami Keruntuhan di Balik Perebutan Lahan
Yayasan Sastra Lestari
artikel majalah Kajawen terbitan Balai Pustaka yang menjelaskan mengenai runtuhnya tembok Taman Sriwedari

Dibalik Perebutan Lahan, Tembok Sriwedari Pernah Mengalami Keruntuhan

artikel majalah Kajawen terbitan Balai Pustaka yang menjelaskan mengenai runtuhnya tembok Taman Sriwedari
artikel majalah Kajawen terbitan Balai Pustaka yang menjelaskan mengenai runtuhnya tembok Taman Sriwedari (Yayasan Sastra Lestari)

TribunWikiSolo.com - Museum Sriwedari yang berdiri pada tahun 1870 di era pemerintah Pakubuwono X memiliki banyak kisah dan peristiwa selama berdirnya.

Salah satunya adalah runtuhnya tembok gapura Taman Sriwedari pada 7 Agustus 1929, hal ini tercatat pada salah satu liputan Majalah Kajawen edisi 21 Agustus 1929 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Dalam liputan yang di tulis media tersebut dijelaskan bahwa kejadian tersebut menimbulkan dua korban jiwa meninggal dan satu orang mengalami patah tulang dibagian kaki.

Pada saat kejadian berlangsung, masyarakat sekitar banyak mengaitkannya dengan mitos dan takhayul.

Diantara mitos yang beredar adalah tempat tersebut angker dan aura magis yang beredar di sekitar wilayah itu, berdirinya tembok gapura dekat dengan pohon asem yang memiliki julukan "Sabuk Janur".

Rumor keangkeran Loji Sriwedari juga ikut mewarnai desas-desas robohnya tembok gapura Sriwedari.

Majalah Kajawen juga menceritakan mitos angkernya wilayah Taman Sriwedari disebabkan oleh cerita rakyat mengenai sosok Kyai Sabuk Janur yang memiliki kekebalan terhadap benda tajam.

Di sekitar lokasi itulah sang kyai mati akibat ditusuk oleh orang tidak dikenal, sehingga kekebalannya dapat kalah, dan darah serta bekas tusukan konon menjadikan wilayah sekeliling Taman Sriwedari ditumbuhi oleh pohon asam.

Oleh warga sekitar yang mempercayai cerita tersebut, pohon asam akhirnya dianggap keramat dan bertuah.

Diakhir naskah Majalah Kajawen menjelaskan, kisah pohon asem dan kaitannya tembok gapura roboh hanyalah kisah mistis biasa.

Adapun tembok retak dikarenakan banyak bagian sudah rapuh dan lapuk, bahkan sebelumnya telah dilaporkan kepada petuga berwajib.

Sedangkan mengenai hewan yang mati akibat ketidak cocokan lingkungan dan habitat dengan wilayah Taman Sriwedari, yang menyebabkan kematian masal.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved