Monumen Pers Nasional

Mengenal Monumen Pers Nasional yang terletak di Kota Surakarta, yang menyimpan berbagai koleksi benda sejarah berkaitan dengan pers Indonesia

Monumen Pers Nasional
kemenkominfo.go.id
Gambar Museum Pers Nasional saat masih bernama Societeit Mangkunegaran 

Dilahirkan di Wonosobo pada 18 Maret 1860, Aboekasan merupakan anak seorang jaksa kepala di Purworejo yaitu Atmodimorono.

Cukup beruntung dilahirkan sebagai anak seorang pegawai, dirinya memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah formal.

Mulai mengenyam pertama sebagai murid ELS alias Europeesche Lagere School dan menamatkan seluruh studinya di Koningin Wilhelmina School, Batavia.

Sebagai pribumi, dirinya memiliki prestasi yang sangat gemilang kala itu, diantaranya adalah menjadi opseter kelas satu yang pernah ditempatkan di seluruh wilayah yang ada di Jawa.

Karena kemahirannya, pada tahun 1918, Mangkunegara VII ketika masih bergelar Pangeran Adipati Arya Prangwedana memintanya untuk membangun Societeit Mangkoenegaran.

Ditangannya Societeit Mangkunengaran didesain seperti Candi Borobudur dan dipadu dengan beberapa desain candi hindu yang ada di Jawa.

Di bidang arsitek dirinya banyak mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial, seperti anugerah bintang kehormatan "de Orde van Oranye Nassau" atas karya-karyanya pada tahun 1912.

Peresmian dan Perubahan Nomenklatur

Monumen Pers Nasional adalah area edukasi masyarakat mengenai pers dan pemberitaan nasional sejak era pra kemerdekaan hingga media modern di abad ke-21.

Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1978, sekaligus meresmikan nama perubahan gedung dari Societeit Moangkoenegaran menjadi Monumen Pers Nasional.

Pengelolaan gedung tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional di bawah Departemen Penerangan.

Setelah Departemen Penerangan dibubarkan, Monumen Pers Nasional berada di bawah naungan Lembaga Informasi Nasional.

Pada 16 Maret 2011, melalui peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 06/PER/M.KOMINFO/03/2011 mengenai Organisasi dan Tata Kerja, maka Monumen tersebut secara resmi menjadi di bawah naungan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Suasana ruang arsip Monumen Pers Nasional
Suasana ruang arsip Monumen Pers Nasional (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Fungsi dan Tujuan

Monumen Pers Nasional didirikan oleh pemerintah Indonesia bertujuan untuk menjaga memori masyarakat mengenai sejarah pers di Indonesia, sejak pers pra kemerdekaan hingga saat ini.

Namun selain fungsi utama tersebut, terdapat fungsi lain, antara lain:

Pertama, mendokumentasikan berbagai berbagai koleksi bukti media cetak dari seluruh Indonesia, yang saat rezim orde baru digunakan sebagai fungsi sensor dan pengawasan media oleh Departemen Penerangan.

Kedua, menjaga koleksi pers, catatan hingga rekaman baik video maupun audio yang telah ada sejak zaman pra-kemerdekaan.

Ketiga, merawat benda-benda pers yang memiliki nilai sejarah, seperti mesin ketik peninggalan Bakrie Soeriaatmadja, baju wartawan TVRI Hendro Soebroto, dan kamera milik wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin.

Keempat, menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai proses terbitnya berita baik cetak hingga online.

Layanan dan Fasilitas Museum Pers Nasional

Selain disuguhi dengan berbabagai benda sejarah yang berkenaan dengan pers, masyarakat juga dapat menikmati layanan lainnya di Monumen Pers Nasional, seperti akses digital arsip e-paper, layanan perpustakaan hingga kumpulan majalah yang terarsip dari zaman pra-kemerdekaan.

Berikut adalah beberapa fasilitas Monumen Pers Nasional yang dapat dinikmati publik:

1. Layanan Arsip Digital

Suasana ruang digitalisasi arsip
Suasana ruang digitalisasi arsip (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Pada saat wartawan Tribun Solo memasuki gedung monumen dan selesai melakukan registrasi di ruang depan, ada fasilitas lain yang ditawarkan ke publik yaitu arsip digital.

Masyarakat dapat menikmati koleksi koran dan majalah hasil pindaian para petugas, sehingga memudahkan masyarakat dalam mencari data.

Layanan itu banyak dimanfaatkan oleh para mahasiswa dalam mengerjakan tugas terutama ketika sedang mencari referensi.

2. Layanan Perpustakaan

Terdapat dua jenis ruangan perpustakaan diantaranya perpustakaan umum dan perpustakaan Kemala yang secara keseluruhan buku-buku di dalamnya merupakan hibah dari wartawan senior Kemala Atmojo.

Meskipun buku hibah, namun masih dalam kondisi sangat baik, bahkan menurut petugas bidang konservasi menuturkan bahwa dalam perpustakaan Kemala banyak terdapat buku dan majalah yang merupakan terbitan edisi pertama dan cukup langka di pasaran.

3. Arsip Majalah dan Koran

Selain menyediakan dalam bentuk digital, terdapat dalam bentuk cetak yang hingga saat ini masih terawat dan terjaga dengan baik.

Kondisi yang baik ini memudahkan pengunjung untuk menikmati arsip-arsip tersebut.

Terlihat arsip tertua yang disimpan adalah sejak tahun 1980an, hingga terdapat banyak majalah atau koran yang tidak terbit lagi saat ini.

Hendra mengatakan, arsip-arsip tersebut dijaga dengan konsisi dan suhu tertentu, serta bagi masyarakat yang ingin mengakses harus seizin dan dibawah pengawasan petugas agar tidak terjadi kerusakan.

Demi menjaga dari hama serangga dan jamur ruangan tersebut selalu diberi semprotan cairan dan disterilkan pada setiap minggunya.

Koleksi Langka Kemala Atmojo

Suasana ruangan arsip hasil hibah Kemala Atmojo
Suasana ruangan arsip hasil hibah Kemala Atmojo (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Monumen Pers Nasional yang terletak di Jalan Gajahmada, Kota Surakarta, selain menyimpan benda bersejarah pers nasional dari era pra-kemerdekaan.

Ada sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk menyimpan buku-buku koleksi Kemala Atmojo, salah seorang jurnalis senior di Indonesia.

Buku-bukui tersebut dihibahkan sejak Januari 2020 lalu. Hal ini nampak dari proses penataan yang masih berlangsung.

Selain buku, terdapat pula kumpulan kliping majalah dan koran.

Menurut Mahendra selaku pegawai di Monumen Pers Nasional, di ruangan tersebut yang paling menarik adalah edisi pertama dari setiap majalah dan kora dari setiap media penerbitnya.

Hal tersebut yang menurutnya menjadi unik, dikarenakan hanya sedikit orang yang bisa memiliki hobi serupa.

Saat wartawan TribunSolo melakukan kunjungan terlihat masih sepi, dan nampak beberapa buku masih belum dikeluarkan dari kardus.

 Sudut Unik Transmitter Pemancar "Radio Kambing"

Salah satu sudut radio kambing di Monumen Pers nasional
Salah satu sudut radio kambing di Monumen Pers nasional (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Di salah satu sudut monumen ada sebuah aset yang tersimpan dan menjadi petunjuk memoar dalam sejarah pers Indonesia, yaitu transmitter "Radio Kambing".

Julukan "Radio Kambing" sendiri muncul dari para pendengar nya yang kerap kali muncul suara embikan kambing di kala mereka siaran.

Tentu suara itu muncul karena mereka siaran di sebuah kandang kambing, tepatnya di Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, demi menghindari kejaran tentara Belanda yang mengejar mereka, demi mencegah tersiarnya kabar kemerdekaan Indonesia.

Hingga akhirnya Indonesia merdeka, pemancar tersebut dikembalikan ke kota Surakarta atas perintah Kepala RRI, R. Maladi.

Di saat wartawan TribunSolo melakukan kunjungan disediakan tiga buah tablet digital yang dapat memperagakan suara kambing dan suara Soekarno saat membacakan teks proklamasi.

Selain menjadi pemancar ketika siaran kemerdekaan, pada tahun1936 sempat digunakan oleh Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII, untuk melakukan sendratari di Belanda dengan iringan musk gamelan yang dilakukan di Solo pada saat pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard di Istana Noordiende Den Haag.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved