Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, dari Rumah Milik Dokter hingga Area Ekspresi Budaya

Dimulai dari rumah milik seorang dokter, berikut fakta mengenai Bentara Budaya Solo

Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, dari Rumah Milik Dokter hingga Area Ekspresi Budaya
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Penghujung ruangan Bentara Budaya Balai Soedjatmoko 
Penghujung ruangan Bentara Budaya Balai Soedjatmoko
Penghujung ruangan Bentara Budaya Balai Soedjatmoko (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Laporan Wartawan TribunSolowiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, Solo - Balai Bentara Budaya Solo atau Balai Soedjatmoko adalah sebuah gedung kesenian milik Kompas Gramedia yang dulunya merupakan bekas rumah dinas dari Dr Saleh Mangundiningrat, seorang dokter pribadi dari Paku Buwono X dan Paku Buwono XI.

Rumah tersebut ditempati Dr Saleh bersama keluarganya yang terdiri atas istri dan keempat putra dan putrinya antara lain, Poopy Saleh, Soedjatmoko, Miriam Saleh, dan Nugroho Wisnumurti.

Secara keseluruhan anak-anaknya tidak ada yang mengikuti Dr Saleh untuk tinggal di Solo dan menempati rumah mereka.

Poppy Saleh mengikuti suaminya yaitu Sutan Sjahrir, salah satu Perdana Menteri Indonesia, dan mengganti namanya menjadi Poppy Sjahrir.

Miriam Saleh mengikuti suaminya Ali Budiarjo , mantan Sekretaris Kementerian Penerangan yang kemudian menjabat sebagai Direktur Freeport Indonesia, dan Miriam merubah namanya menjadi Miriam Budiarjo.

Soedjatmoko pernah bersekolah kedokteran di Stovia, namun tidak selesai di masa penjajahan Jepang, lalu melanjutkan pekerjaan sebagai staf dan juru bicara PM Sjahrir, kemudian menjadi wakil kepala perwakilan Indonesia di PBB, hingga puncak karirnya menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat di tahun 1968-1971.

Si bungsu, Nugroho Wisnumurti, mengikuti jejak sang kakak, Soedjatmoko, menjadi diplomat, dan menjadi Dubes RI untuk PBB tahun 1992-1997.

Selain anak dan istri dari Dr Saleh yang menghuni rumah tersebut, bebrapa kerabat lainnya juga ikut menghuni kamar yang tersedia, sperti Prof Sri Edi beserta keluarganya yang harus tiggal di Solo dikarenakan rumahnya yang berada di Ngawi terkena dampak peristiwa pemberontakan PKI yang berpusat di Madiun.

Dr Saleh selain sebagai seorang dokter, dia juga menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Kadilopo yang berjarak tidak jauh dari rumahnya, sehingga selain menerima pasien di rumah sakit, Dr Saleh juga menerima pasien di rumah dan beberapa diantara pasiennya tidak dipungut biaya dengan alasan ekonomi.

Selain menjabat sebagai dokter dan kepala rumah sakit, Dr Saleh juga mengemban amanat sebagai rektor di Universitas Tjokroaminoto Solo hingga penghujung usianya yaitu 71 tahun.

Ketika Dr Saleh wafat, seluruh anaknya tidak ada yang pulang kembali ke Solo dan mendiami rumah tersebut.

Hal itulah yang menyebabkan rumah di tengah kota itu dijual dan berpindah tangan dan kepemilikan hingga akhirnya dibeli oleh Kompas.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved