Bentara Budaya Balai Soedjatmoko

Mengenal Balai Bentara Balai Soedjatmoko yang didirikan oleh Kompas Gramedia, yang terinspirasi dari sosok Soedjatmoko, Rektor Universitas PBB

Bentara Budaya Balai Soedjatmoko
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Penghujung ruangan Bentara Budaya Balai Soedjatmoko 

Si bungsu, Nugroho Wisnumurti, mengikuti jejak sang kakak, Soedjatmoko, menjadi diplomat, dan menjadi Dubes RI untuk PBB tahun 1992-1997.

Selain anak dan istri dari Dr Saleh yang menghuni rumah tersebut, bebrapa kerabat lainnya juga ikut menghuni kamar yang tersedia, sperti Prof Sri Edi beserta keluarganya yang harus tiggal di Solo dikarenakan rumahnya yang berada di Ngawi terkena dampak peristiwa pemberontakan PKI yang berpusat di Madiun.

Dr Saleh selain sebagai seorang dokter, dia juga menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Kadilopo yang berjarak tidak jauh dari rumahnya, sehingga selain menerima pasien di rumah sakit, Dr Saleh juga menerima pasien di rumah dan beberapa diantara pasiennya tidak dipungut biaya dengan alasan ekonomi.

Selain menjabat sebagai dokter dan kepala rumah sakit, Dr Saleh juga mengemban amanat sebagai rektor di Universitas Tjokroaminoto Solo hingga penghujung usianya yaitu 71 tahun.

Ketika Dr Saleh wafat, seluruh anaknya tidak ada yang pulang kembali ke Solo dan mendiami rumah tersebut.

Menurut salah seorang kurator Balai Soedjatmoko Asa. M. Sawega, sebelum dibeli Kompas Gramedia, rumah Dr Saleh tersebut sempat berpindah ke banyak tangan dan kepemilikan, sempat juga menjadi rumah makan dan pabrik kain batik.

Dari Kantor Berita Menjadi Zona Budaya

Kantor Radio Ria FM yang dahulu digunakan sebagai kantor berita Harian Kompas, Surya dan Bernas
Kantor Radio Ria FM yang dahulu digunakan sebagai kantor berita Harian Kompas, Surya dan Bernas (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Diawal penggunaan, rumah tersebut digunakan oleh Kompas menjadi kantor biro harian Grup Kompas seperti Harian Surya (Surabaya), dan Harian Bernas (Yogyakarta), sehingga rumah tersebut selalu dipenuhi oleh wartawan.

Hingga berselang beberapa waktu, Kompas berencana mendirikan Toko Buku Gramedia, yang dirancang oleh arsitek, Andi Siswanto.

Dalam rancangan Andi, Toko Buku Gramedia akan dibuat mengelilingi rumah tersebut, dan surat kabar akan berjalan di tempat yang sama.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved