Bentara Budaya Balai Soedjatmoko

Mengenal Balai Bentara Balai Soedjatmoko yang didirikan oleh Kompas Gramedia, yang terinspirasi dari sosok Soedjatmoko, Rektor Universitas PBB

Bentara Budaya Balai Soedjatmoko
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Penghujung ruangan Bentara Budaya Balai Soedjatmoko 

Namun sayangnya dalam pelaksanaan tidak berjalan seratus persen dikarenakan Harian Kompas pindah ke Kalitan, Harian Surya menutup bironya di Solo dan Harian Bernas juga melakukan hal serupa.

Akhirnya Balai Soedjatmoko dikelola oleh Toko Buku Gramedia dan bekas kantor  milik beberapa surat kabar harian menjadi studio Ria FM, salah satu jaringan radio Sonora FM Jakarta.

Berdiri sejak tahun 2003, Balai Soedjatmoko dikelola oleh Toko Buku Gramedia hingga tahun 2009.

Pada tahun 2009-hingga sekarang Balai Soedjatmoko dikelola sepenuhnya oleh Bentara Budaya.

Pada saat sepenuhnya dikelola oleh Bentara Budaya Solo, pelbagai kegiatan seni budaya diadakan.

Balai Soedjatmoko menjadi salah satu pelopor dalam kegiatan seni budaya di ruang publik yang  dimiliki swasta.

Selebihnya  dimiliki pemerintah, seperti kawasan kampus ISI dan Taman Budaya Jawa Tengah.

Mengenal Sosok di Balik Soedjatmoko

Foto keluarga Soedjatmoko yang menjadi arsip di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko
Foto keluarga Soedjatmoko yang menjadi arsip di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Soedjatmoko merupakan nama salah satu anak dari Dr Saleh Mangundiningrat pemilik rumah sebelum dibeli oleh Kompas Gramedia. 

Atas prestasi dan pencapaian Soedjatmoko tersebutlah yang mengilhami Jakob Oetama selaku Presiden Direktur Kompas Gramedia menjadikan nama situs ini Balai Soedjatmoko, sehingga diharapkan jejaknya dapat diikuti oleh generasi masa depan.

Bahkan menurut Asa, Kompas Gramedia atas perintah Jakoeb Oetama juga melakukan penyelidikan mendalam atas sosok Soedjatmoko, yang mana belum banyak diketahui oleh khalayak publik.

Soedjatmoko sendiri adalah seorang cendekiawan terkemuka di Indonesia bahkan dunia.

Dekat dengan Sutan Sjahrir, dan merupakan kakak iparnya, dia diberi tugas untuk menerbitkan majalah Het Inzicht (Pemahaman ke Dalam).

Dimulai dari tahun 1947, Soedjatmoko ikut serta kedalam korps diplomat Indonesia dalam proses perundingan kedaulatan terhadap Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa selama tujuh tahun.

Memasuki masa orde baru tepatnya di tahun 1968, pemerintah pusat memberikan mandat padanya untuk menjadi Duta Besar RI di Washington DC dalam kurun waktu tiga tahun.

Selesai menjadi Dubes, jabatannya berlanjut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai Penasihat Ahli Bidang Sosial Budaya dari 1971 hingga 1980.

Hingga puncaknya dirinya mendapat penghargaan dari masyarakat internasional penghargaan Magsaysay (1978) dan memberikan kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai rektor di Universitas PBB di Tokyo, Jepang.

Penggunaan nama Soedjatmoko ini sendiri sangat diapresiasi oleh para keluarga dan kerabatnya, istrinya, Ratmini Gandasubrata ikut menyumbangkan beberapa pakaian, foto dan mesin tik yang dapat dipelajari dan diamati oleh publik luas.

Selain itu keluarganya juga kerap hadir di setiap kajian dan diskusi mengenai sosok Soedjatmoko, seperti Almarhum Miriam Budiarjo yang semasa hidupnya cukup aktif dalam kegiatan dan menyempatkan untuk terbang dari Jakarta untuk ikut hadir dalam diskusi

Komunitas Balai Soedjatmoko Solo

Salah satu kegiatan yaitu musik blues yang diselenggarakan setiap bulan oleh Bentara Budaya
Salah satu kegiatan yaitu musik blues yang diselenggarakan setiap bulan oleh Bentara Budaya (bentarabudaya.com)

Balai Soedjatmoko atau Bentara Budaya  Balai Soedjatmoko Solo memiliki beragama agenda yang terangkum dalam website bentarabudaya.com.

Beberapa agenda merupakan agenda kerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Solo dan sekitarnya.

Dilansir dari tulisan Rosyid Nukha dalam Jurnal Sosiologi Universitas Sebelas Maret, pelaksanaan pentas kesenian tradisisonal memiliki maksud untuk pemeliharaan pengetahuan dan pemahaman akan kesenian tradisional seperti keroncong, macapat dan karawitan kepada masyarakat luas.

Sebagai bentuk implementasi Balai Soedjatmoko mengadakan kerjasama dengan beberapa kelompok masyarakat dan kesenian tradisional untuk mewujudkannya.

Agenda seni tersebut bersifat rutin baik mingguan maupun bulanan, dan seluruh elemen masyarakat dapat mengikutinya.

Adapun komunitas yang sering bekerja sama antara lain:

1. Solo Jazz Society

Sekumpulan pemain musik dengan genre jazz di Kota Surakarta dan menjadi komunitas terbesar di kota tersebut.

Dimulai sejak awal 2000-an dan muali akrif bermusik di Balai Soedjatmoko pada tahun 2010.

Bekerjasama dengan radio Ria FM, Bentara Budaya Solo membuat acara Parkiran Jazz di halaman parkir Balai Soedjatmoko.

Acara yang sebelumnya diberi nama Parkiran JAzz tersebut diadakan setiap Kamis di minggu terakhir setiap bulan.

Selain tampil rutin di acara Parkiran Jazz, para personel Solo Jazz Society juga aktif di acara jazz lainny seperti Ngayogjazz dan Solo City Jazz.

2. Blues Brothers Solo

Blues Brothers Solo merupakan grup musik perintih di Kota Solo yang secara rutin bermain dua bulan sekali di Balai Soedjatmoko.

Membawakan musik blues sebagai identitas, mereka berkumpul di Ndalem Ndarian bersama grup musik blues lainnya yang saat ini cukup berkembang di Kota Solo.

3. Pawon Sastra

Pawon Sastra telah berdiri sejak tahun 2007, berawal dari Taman Budaya Jawa Tengah.

Perkumpulan ini terdri atas para penulis novel, cerpen, puisi dan pemerhati seni.

Pada saat Bentara Budaya mulai aktif dengan kegiatannya, Pawon Sastra juga mulai ikut serta.

Kegiatan mereka tidak ahanya berkutat di dalam Kota Solo saja, namun juga bekerjasama dengan Komunitas Salihara dari Jakarta hingga Kepustakaan Populer Gramedia.

4. Komunitas Sejarah Balai Soedjatmoko

Komunitas ini mengawali sebagai kegiatannya sebagai pengelola Balai Soedjatmoko oleh Bentara Budaya.

Para anggota komunitas ini aktif dalam setiap kegiatan seperti diskusi tentang sosok Soedjatmoko di tahun 2009 dan juga ikut memperingati 100 tahun sosok Sutan Sjahrir.

Selain mengadakan diskusi internal mereka juga beberapa kali mengundang sejarawan terkemuka seperti Kucoro Hadi hingga Peter Carey di Balai Soedjatmoko.

5. Komunitas Cagar Budaya

Memiliki kegiatan rutin paling lama, komunitas ini justru paling rajin dalam mengadakan pertemuan informasl di Balai Soedjatmoko.

Hal ini dikarenakan perhatian mereka terhadap beberapa cagar budaya di Solo yang terbengkalai membuat mereka rajin bertemu di luar agenda resmi.

Diikuti tidak hanya dari dalam Kota Solo namun juga banyak dari luar kota dikarenakan banyak peminat mengenai cagar budaya Kota Solo dari luar kota.

6. Komunitas Macapatan

Kegiatan macapatan yang pertama diadakan oleh Komunitas Keris Solo mendapat beragam apresiasi dari masyarakat sehingga banyak diikuti.

Oleh karena itu Komuinitas Macapatan ini berdiri, dan mulai dikelola secara bersama oleh banyak pihak terutama dari akademisi kampus seperti UNS dan ISI.

Beberapa karya pujangga pernah dibedah, dan ditembangkan seperti karya Paku Buwono dan Ranggawarsita.

Tidak hanya keenam komunitas diatas, masih banyak aktifitas seni maupun diskusi yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat di Balai Sodjatmoko, dan dilakukan secara rutin sehingga jadwal pertunjukkan setiap bulan selalu ada dan masyarakat Kota Solo mendapat hiburan edukatif tentang budaya di balai Sooedjatmoko.

Selain ditampilkan secara langsung kepada publik di Balai Soedjatmoko, masyarakat juga dapat menyaksikan melalui media elektronik seperti You Tube, Facebook dan Instagram (Balai Soedjatmoko).

Sejarah Bentara Budaya

Hasil jepretan foto pameran
Hasil jepretan foto pameran "Republik Kresek" di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Bentara Budaya merupakan lembaga kebudayaan milik Kompas Gramedia, yang memiliki makna utusan budaya.

Diawal pendiriannya merupakan hasil usulan dari sosok wartawan Kompas kala itu, Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J., atau lebih dikenal dengan nama pena Sindhunata.

Berawal dari Toko Buku Gramedia Yogyakarta yang memiliki sisa lahan pasca pembangunan, Sindhunata memiliki ide bahwa Kompas Gramedia memiliki sebuah lembaga budaya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan tidak hanya berorientasi pada profit semata.

Sehingga sisa lahan tersebut bangun sebuah gedung dengan orientasi non-profit dan bergerak dibidang budaya maka terciptalah Bentara Budaya.

Diresmikan oleh bapak Jakob Oetama sebagai salah satu pendiri Kompas Gramedia pada tanggal 26 September 1982 di Yogyakarta.

Menurut Asa, pembangunan Balai Bentara merupakan inisiator pertama dalam pembangunan gedung seni budaya non pemerintahan di Indonesia dan mengukuhkan bahwa Kompas Gramedia juga bergerak dibidang budaya dan kesenian bukan hanya di media saja.

Pasca didirikan, maka diciptakanlah sebuah motto untuk Bentara Budaya yaitu:

"Sebagai utusan budaya, Bentara Budaya menampung dan mewakili wahana budaya bangsa, dari berbagai kalangan, latar belakang, dan cakrawala, yang mungkin berbeda. Balai ini berupaya menampilkan bentuk dan karya cipta budaya yang mungkin pernah mentradisi. Ataupun bentuk-bentuk kesenian massa yang pernah populer dan merakyat. Juga karya-karya baru yang seolah tak mendapat tempat dan tak layak tampil di sebuah gedung terhormat. Sebagai titik temu antara aspirasi yang pernah ada dengan aspirasi yang sedang tumbuh. Bentara Budaya siap bekerja sama dengan siapa saja."

Pasca mendirikan Bentara Budaya Yogyakarta, Kompas Gramedia kembali melahirkan Bentara Budaya  di Jakarta pada 26 Juni 1986.

Kompas kembali meresmikan dua Bentara Budaya, yaitu Bentara Budaya Balai Soedjatmoko yang terletak di Kota Surakarta pada 31 Oktober 2003 dan Bentara Budaya Bali pada 9 September 2009, berbeda dari ketiga sebelumnya, Bentara Budaya Bali diresmikan oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika di kawasan Ketewel, Denpasar Bali.

Menurut Bentara Budaya, pengoleksian karya dan upaya representasinya merupakan sebuah wujud pelestarian budaya, sekaligus menjadi amanat dalam proses pewartaan sejarah bangsa yang terdri dari berbagai aneka warna dan budaya.

Saat ini Bentara Budaya sering mengadakan kerjasama dalam bidang kebudayaan dengan berbagai instansi baik dalam maupun luar negeri, dan keempat bentara menjadi referensi dalam aktifitas dan perkembangan seni budaya Indonesia.

Mengenal Sosok Pimpinan Pertama Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo

Mengenal sosok Ardus Aswaga atau yang kerap dipanggil dengan Asa
Mengenal sosok Ardus Aswaga atau yang kerap dipanggil dengan Asa (TribunSolo.com)

Argus M. Sawega saat ini aktif menjadi kurator di Bentara Budaya setelah sebelumnya sempat memimpin lembaga tersebut di tahun 2009, di saat Balai Soedjatmoko dikelola sepenuhnya oleh Bentara Budaya, setelah sebelumnya berada di bawah naungan Toko Buku Gramedia.

Pria kelahiran 25 Mei 1950 tersebut merupakan salah seorang pengusul atas pembangunan Balai Soedjatmoko yang sebelumnya merupakan kantor berita Harian Kompas, Bernas dan Surya.

Namun dikala Balai Soedjatmoko diresmikan oleh Jakoeb Oetama, dirinya dipindahtugaskan untuk ke Jakarta di bagian redaksi.

Hingga ditahun 2009, Asa kembali ke Solo dan diminta untuk mengepalai Balai Soedjatmoko yang menjadi dibawah manajemen Bentara Budaya.

Mengawali karir sebagai wartawan Majalah Midi, majalah untuk anak muda yang pertama kali terbit pada 11 Agustus 1973 dengan isinya seperti kolom perkenalan, TTS hingga ramalam bintang.

Hingga di tahun 1981 dirinya menjadi wartawan Kompas dan menjabat sebagai koresponden bagi regional Solo raya.

 Dibalik karir wartawan Asa memiliki latar belakang seni dan budaya yang cukup baik, sehingga mengasah pola pikirnya.

Belajar seni karawitan langsung dari lingkungan Keraton Solo dari sosok Gendon S.D. Humardani, seorang seniman yang pernah menampilkan seni tari Gatotkaca di hadapan Sukarno, membentuknya menjadi pemerhati seni hingga saat ini.

Kemampuannya di bidang seni mempengaruhi banyak hal pada perkembangan Bentara Budaya Balai Soedjatmoko hingga saat ini.

Laporan Wartawan Tribunsolowiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved