Mengenal Soedjatmoko, Sosok di Balik Nama Bentara Budaya yang Terletak di Solo

Mengenal Soedjatmoko, sosok putra dokter bangsawan yang namanya diabadikan menjadi nama balai budaya

Mengenal Soedjatmoko, Sosok di Balik Nama Bentara Budaya yang Terletak di Solo
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Foto keluarga Soedjatmoko yang menjadi arsip di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko 
Foto keluarga Soedjatmoko yang menjadi arsip di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko
Foto keluarga Soedjatmoko yang menjadi arsip di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM - Bentara Budaya Balai Soedjatmoko yang terletak di Koto Solo diilhami dari nama sosok toko bangsa Indonesia asal Solo.

Soedjatmoko sendiri merupakan nama salah satu anak dari Dr Saleh Mangundiningrat pemilik rumah sebelum dibeli oleh Kompas Gramedia.

Atas prestasi dan pencapaian Soedjatmoko tersebutlah yang menginspirasi Jakob Oetama selaku Presiden Direktur Kompas Gramedia menjadikan nama situs ini Balai Soedjatmoko, sehingga diharapkan jejaknya dapat diikuti oleh generasi masa depan.

Bahkan menurut Ardus Sawega, salah seorang kurator Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Kompas Gramedia atas perintah Jakoeb Oetama juga melakukan penyelidikan mendalam atas sosok Soedjatmoko, yang mana belum banyak diketahui oleh khalayak publik.

Soedjatmoko sendiri adalah seorang cendekiawan terkemuka di Indonesia bahkan dunia.

Dekat dengan Sutan Sjahrir, dan merupakan kakak iparnya, dia diberi tugas untuk menerbitkan majalah Het Inzicht (Pemahaman ke Dalam).

Dimulai dari tahun 1947, Soedjatmoko ikut serta kedalam korps diplomat Indonesia dalam proses perundingan kedaulatan terhadap Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa selama tujuh tahun.

Memasuki masa orde baru tepatnya di tahun 1968, pemerintah pusat memberikan mandat padanya untuk menjadi Duta Besar RI di Washington DC dalam kurun waktu tiga tahun.

Selesai menjadi Dubes, jabatannya berlanjut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai Penasihat Ahli Bidang Sosial Budaya dari 1971 hingga 1980.

Hingga puncaknya dirinya mendapat penghargaan dari masyarakat internasional penghargaan Magsaysay (1978) dan memberikan kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai rektor di Universitas PBB di Tokyo, Jepang.

Penggunaan nama Soedjatmoko ini sendiri sangat diapresiasi oleh para keluarga dan kerabatnya, istrinya, Ratmini Gandasubrata ikut menyumbangkan beberapa pakaian, foto dan mesin tik yang dapat dipelajari dan diamati oleh publik luas.

Selain itu keluarganya juga kerap hadir di setiap kajian dan diskusi mengenai sosok Soedjatmoko, seperti Almarhum Miriam Budiarjo yang semasa hidupnya cukup aktif dalam kegiatan dan menyempatkan untuk terbang dari Jakarta untuk ikut hadir dalam diskusi.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved