Kampung Batik Laweyan

Mengenal salah satu cagar budaya yang terletak di sudut Kota Surakarta, mengenalkan batik melalui sejarah dan wisatanya

tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Selamat Datang di Kawasan Kampung Batik Laweyan 

Profil Kampung Batik Laweyan

Selamat Datang di Kawasan Kampung Batik Laweyan
Selamat Datang di Kawasan Kampung Batik Laweyan (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

TRIBUNSOLOWIKI.COM - Kampung Batik Laweyan merupakan salah satu pusat batik yang terletak di pusat Kota Solo dengan memiliki luas 24,83 hektar.

Pertama dibangun pada abad ke 15 saat Ki Ageng Henis mendapat tanah perdikan yang dia pimpin dan diwariskan kepada anak cucunya.

Diantara anak cucu yang memipin terdapat, Sutowijoyo yang juga mendapat tanah perdikan serupa di wilayah Kota Gede, Yogyakarta.

Kampung Laweyan sendiri terletak di Kecamatan Laweyan, yang di abad ke-20 memiliki 3 kelurahan dan saat ini telah berkembang menjadi 11 kelurahan.

Kawasan batik tersebut menjadi ikon wisata batik Solo dimulai sejak abad ke-19, ketika Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi di tahun 1912.

Pasca didirikan SDI, perkembangan produksi dan penjualan batik mengalami peningkatan pesat dan dilansir dari situs Pesona Travel saat ini terdapat 250 batik khas Kampung Batik Laweyan yang telah memiliki hak paten dengan beragam ciri khas yang dimiliki, yaitu dengan warna lebih terang.

Seperti julukannya yaitu Kampung Batik, maka mayoritas penduduk di wilayah tersebut menggantungkan hidupnya pada produksi dan penjualan batik.

Potensi ekonomi tersebut tidak hanya menyerap tenaga kerja dari masyarakat dalam kampung, namun wilayah sekitar Kota Solo juga ikut terserap untuk menjadi pegawai toko maupun pabrik dalam skala industri rumahan.

Potensi ekonomi tidak hanya didapat dari industri batik semata, namun juga pada industri wisata, sehingga masyarakat juga menggerakkan potensi kuliner dan menawarkan makanan khas Solo seperti, kue ledre, apem dan lainnya.

Dalam usaha batik sempat terdapat mengalami gejolak dan menyusut di tahun 1970 di kala batik printing merajalela dan menguasai pasar kain di wilayah Jawa.

Hingga di tahun 2004 kembali bangkit dan menjadikan secara resmi sebagai "Kampung Batik" dan pada waktu tersebut pengusaha batik mengalami penyurutan dari yang sebelumnya berjumlah ratusan hingga menurun menjadi 16 saudagar yang ikut terdaftar.

Selain Kelurahan Laweyan akhirnya dikembangkan wilayah lain untuk menjadi Kampung Batik serupa di Kecamatan Laweyan, sehingga industri dan wisata batik tidak terbatas di satu wilayah saja.

Di wilayah lain terdapat Kampung Batik Kauman, yang tidak jauh dari Laweyan dan dekat dengan Keraton Surakarta, dikarenakan banyak penghuni di dalamnya merupakan para anggota abdi dalem.

Para pengusaha batik yang terletak di Kampung Batik Laweyang terorganisasi menjadi satu dibawah Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) dan telah berdiri sejak 25 September 2004 dengan Surat Penunjukkan dan penugasan dari Bappeda Kota Surakarta.

Saat ini FPKBL diketuai oleh Alpha Febela Priyatmono, salah seorang dosen arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sejarah Kampung Batik Laweyan

Makam Ki Ageng Enis di Laweyan
Makam Ki Ageng Enis di Laweyan (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Berdirinya Kampung Batik Laweyan tidak lepas dari sejarahnya yang dahulu merupakan sebuah pasar dengan nama Pasar Laweyan di masa Paku Buwono II.

Selain keberadaan Pasar Laweyan, kawasan Kampung Batik Laweyan juga dekat dengan kebun kapas sehingga memperkuat pengaruh industri bahan baku kain.

Dilansir dari tulisan Dhian Lestari dengan judul "Struktur dan Fungsi Interior Dalêm Indis bagi Saudagar Batik Laweyan di Awal Abad ke-20" di jurnal Dewaruci miliki ISI Solo, bahwa laweyan berasal dari kata lawe yang bermakna bahan baku tenun.

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved