Kampung Batik Laweyan

Mengenal salah satu cagar budaya yang terletak di sudut Kota Surakarta, mengenalkan batik melalui sejarah dan wisatanya

Kampung Batik Laweyan
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Selamat Datang di Kawasan Kampung Batik Laweyan 

Maka disaat pasar tersebut masih berdiri, banyak terjadi transaksi jual beli bahan bauk tenun seperti kapas dan perlatan tenun.

Para pedagang yang berada di Pasar laweyan kala itu, sebagian besar merupakan orang-orang Cina yang diberi hak khusus oleh Belanda.

Selain dijual bahan tenun, ditempat tersebut juga banyak terjadi jual beli komoditi candu, seperti daun ganja atas seizin Belanda dengan maksud menghancurkan masyarakat dan memecah kekuasaan Keraton Kasunanan dari sisi ekonomi dan moral.

Banyaknya pedagang asal Cina menimbulkan asimilasi dan percampuran penduduk terutama banyak dari pedagang Cina yang menikah dengan penduduk setempat, sehingga terjadi pertukaran budaya.

Pengaruh budaya Cina bertahan hingga saat ini, seperti jiwa dagang para keturunannya yang masih terlihat di wilayah Laweyan.

Perkembangan Laweyan tidak hanya berada di sektor darat, namun juga di wilayah sungai dan bandar, yang berfungsi sebagai jalur transportasi penghubung hingga Bengawan Solo.

Jalur sungai tersebut menghubungkan para pendudukan Kampung Laweyan dengan masyarakat lokal hingga internasional.

Akibat hal tersebut Laweyan berubah dari sentra perdagangan bahan baku tenun berubah menjadi produsen kain mori dan pembuat batik cap.

Perubahan tersebut didasari oleh munculnya rasa penghargaan terhadap batik, yang lekat dengan kehidupan para bangsawan keraton.

Namun di Laweyan terdapat sebuah perbedaan dalam prose membatik, yaitu dilakukan dengan cap, walaupun masih terdapat beberapa yang ditulis dengan dengan tangan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved