Kampung Batik Laweyan

Mengenal salah satu cagar budaya yang terletak di sudut Kota Surakarta, mengenalkan batik melalui sejarah dan wisatanya

Kampung Batik Laweyan
tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Selamat Datang di Kawasan Kampung Batik Laweyan 

Hal ini terjadi dikarenakan adanya disparitas antara bangsawan Keraton yang mengagungkan batik tulis dan menjadikannya sebagai perlengkapan simbolik atas pangkat kekuasaan.

Selain itu, terdapat sejumlah permintaan dari para konsumen daerah, dikarenakan batik sudah menjadi barang konsumtif bagi rakyat.

Antusiasme masyarakat terhadap batik cap semakin tinggi terutama setelah pemerintah Belanda membangun akses rel kereta api yang menghubungkan antar daerah di wilayah Jawa, keberadaan kereta api dengan sendirinya menggantikan fungsi dari trasnportasi sungai.

Kondisi ekonomi masyarakat mengalami peningkatan yang sangat pesat dikarenakan ciri khas batik cap yang mereka akhirnya selalu dikembangkan, hingga terdapat aneka ragam ciri khas dari batik di wilayah Laweyan.

Keberadaan batik cap juga menggeser stigma yang sebelumnya bahwa membatik identik dengan menulis berganti dengan alat, dan yang sebelumnya dilakukan oleh wanita pada kegiatan batik menulis, berbeda dengan batik cap yang dilakukan oleh laki-laki dikarenakan kebutuhan akan industri, yang menghendaki adanya tenaga lebih besar dan cepat.

Dalam sejarahnya kawasan Laweyan sebagai pusat industri batik mencapai puncak kejayaan di tahun 1910 hingga tahun 1930, dan ketika sulit ditemukan wilayah penghasil batik yang setara dengan Laweyan.

Disaat mengalami puncak kejayaan, banyak masyarakat Laweyan yang berubah menjadi saudagar kaya dan mampu hidup mandiri secara ekonomi.

Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya kepemilikan terhadap kuda, mobil dan banyaknya tenaga kerja yang terserap dari luar wilayah Laweyan.

Majunya masyarakat Laweyan dalam menjadi saudagar batik juga mendapat pujian dari K.G.P.A.A. Mangkunagara IV tercatat dalam Serat Wedhatama Pupuh Sinom ke-29 yang menyebutkan untuk mencapai derajat soisial dapat melalui wirya atau jabatan, jika jabatan tidak dimiliki dapat diraih dengan status sosial dari harta benda dengan berwirausaha.

Namun jika masih belum memiliki dapat diraih dengan ilmu pendidikan, dan bila ketiganya tidak dimiliki maka manusia hanya seperti daun jati kering yang tidak berguna bagi kehidupan.

Maka melalui pesan K.G.P.A.A. Mangkunagara IV diabad ke-19 tersebut membuktikan bahwa para suadagar Laweyan mendapat kedudukan setara dengan para bangsawan di Solo.

Islam dan Kampung Batik Laweyan

Mushaf Al Qur'an karya Masyarakat Kampung Batik Laweyan
Mushaf Al Qur'an karya Masyarakat Kampung Batik Laweyan (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Keyakinan religiusitas masyarakat saudagar Laweyan secara mayoritas beragama islam.

Secara asal-usul agama islam hadir sejak moyang mereka yang berasal dari wilayah sebelah timur Bengawan Solo, wilayah Sukoharjo dan Klaten.

Meskipun secara masyarakat Lweyan menganut agama islam namun sedikit dari mereka yang menjalankan syariat seperti shalat 5 waktu dan ritual ibadah lainnya.

Selain itu banyak dari mereka yang masih menjalankan tradisi klenik seperti nglakoni, yang berkaitan dengan bentuk prihatin dalam kepercayaan Jawa, dari mulai menjalankan tirakat di daerah Pantai parangtritis hingga berendam di Sungai Bengawan Solo yang dipercaya dapat meningkatkan kesuksesan mereka.

Kontras dengan wilayah tetangga, Kauman yang merupakan daerah Keraton dan mayoritas di daerah tersebut merupakan santri dari berbagai pesantren di Jawa dan para priyayi terdidik yang menjadi abdi dalem keraton.

Para saudagar Laweyan memiliki konsep beragama terkait dengan kepentingan dagang mereka, yang berprinsip "buka gendeng tutup gendeng", yang artinya agama diperlukan ketika orang lahir menjadi manusia dan di saat menutup diri menjadi manusia.

Sekularitas warga Laweyan dan konsep Kejawen yang mereka anut akhirnya mulai memudar hingga awal abad ke-20, hal ini mulai ditandai dengan kehadiran para tokoh keagamaan.

Seperti Haji Samanhudi salah seorang menjadi pendiri Sarekat Dagang Islam yang menjadi cikal bakal dari Sarekat Islam, sebuah pergerakan agama islam pertama sebelum Indonesia merdeka.

Sosok Haji Samanhudi dituliskan oleh Muthahharah dalam tulisannya "K.H. Samanhudi dan Syarikat Dagang Islam" di Jurnal Al Fikr UIN Alauddin Makassar, hadir dengan pemikiran yang diadopis dari para pembaharu Timur tengah seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Ridha.

Kampung Batik Laweyan Saat Ini

Alpha Febela Priyatmono dan stempel motif batik milik perusahaannya
Alpha Febela Priyatmono dan stempel motif batik milik perusahaannya (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Sejak mengalami revitalisasi dan diresmikan kembali pada 26 September 2004.

Saat ini Kampung Batik telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak terutama dari pemerintah Republik Indonesia seperti dtetapkannya status cagar budaya nasional di tahun 2010 dan menjadi objek vital nasional di tahun 2016 melalui keputusan presiden.

Perkembangan tersebut tentu tidak lepas atas perjuangan bersama para pengusaha batik dibawah forum FPKBL yang saat ini masih dipimpin oleh Alpha Febela Priyatmono.

Penghargaan demi penghargaan berhasil diraih, hal tersebut menurtu Alpha merupakan warisan dari para leluhur Kampung Batik Laweyan yang telah memberikan masterpiece sejarah sehingga dapat diambil dan diteruskan pada saat ini.

Kampung Batik Laweyan yang sempat mengalami keterpurukan akibat gempuran produk kain dari mesin bisa kembali bangkit dikarenakan melupakan hakikat sejarah yang sejatinya masih dapat dipelajari dan diajarkan sebagai bahan edukasi.

Hal itulah yang menjadikan kawasan Kampung Batik Laweyan selain menjadi kawasan indutri juga menerapkan wisata edukasi batik bagi para wisatawan, dan juga terdapat kelas pelatihan intensif bagi masyarakat.

Usaha Meletakkan Sejarah Bagi Kampung Batik Laweyan

Batik wayang karya masyarakat Kampung Batik Laweyan
Batik wayang karya masyarakat Kampung Batik Laweyan (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Dalam usaha batik yang dilakukan di kawasan Kampung Batik Laweyan memiliki banyak pasang surut.

Diantara penyebab kendala adalah banyaknya pengusaha yang masih belum memahami sejarah akan Kampung Batik Laweyan sendiri.

Bahkan menurut Alpha Febela Priyatmono sebagai ketua FPBKL penurunan omset di tahun 1970 juga selain diakibatkan munculnya usaha batik printing namun juga disebabkan oleh minimnya akan pengetahuan sejarah.

Sejarah masih dianggap remeh bahkan hingga saat ini, hal ini terlihat dengan banyaknya warisan sejarah seperti foto, arsip hingga dokumen penting yang teronggok dan tidak terurus.

Hingga akhirnya oleh Alpha, barang sejarah yang teronggok banyak dibeli dan didokumentasikan sebagai barang yang akan dimuseumkan.

Kesadaran akan sejarah juga berdampak terhadap ekonomi yang sangat signifikan bahkan kawasan yang sebelumnya hanya mengandalkan pada penjualan dan produksi batik, kini sektor mampu digenjot dengan maksimal hingga ditetapkan sebagi cagar budaya.

Usaha pelestarian sejarah juga berdampak pada proses hak cipta motif batik yang didaftarkan kepada pemerintah, dengan adanya bukti sejarah dan dokumen yang valid mampu menyelamatkan beragam motif batik Laweyan dari pencurian hak cipta.

Bahkan dengan pelestarian sejarah mengenai Laweyan, membuat kampung batik tersebut semakin eksis karena mendapat perhatian dari masyarakat, akademisi hingga media baik lokal hingga internasional.

Konsep "Berkah", Ramah Lingkungan dan Revitalisasi Keuntungan

Batik wayang beber karya masyarakat Kampung Batik Laweyan
Batik wayang beber karya masyarakat Kampung Batik Laweyan (tribunsolo.com/muhammad irfan al amin)

Keberadaan Kampung Batik Laweyan sebagai kampung industri dan wisata mampu meningkatkan angka ekonomi masyarakat, hal ini tercatat dari jumlah pengusaha yang tercatat di FPKBL sebanyak 22 pengusaha hingga saat ini berkembang lebih dari dua kali lipat.

Namun dampak ekonomi juga memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar terutama di sekitar wilayah Sungai Jenes dan Wingko yang menjadi destinasi pembuangan limbah bagi para pengusaha di sekitar Laweyan.

Hingga akhirnya oleh Alpha selaku ketua FPKBL, dicetuskan untuk membuat sanitasi pembuangan bersama limbah bagi para pengusaha batik.

Selain itu dibuat juga kompor biogas yang bisa menghasilkan api dari sisa limbah yang telah difermentasi.

Penggunaan bahan baku batik ramah lingkungan juga sering digalakkan, yang berasal dari bahan baku alami juga mulai digunakan oleh banyak pengusaha, saat kesadaran untuk menjaga lingkungan telah dimulai.

Alpha menyebut usahanya dengan nama konsep "Berkah" dengan harapan dapat meningkatkan hasil profit namun tidak melupakan esensi keagamaan dan juga lingkungan.

Kesadaran digalakkan demi menjaga dua sungai, Jenes dan Wingko dari pengaruh limbah yang mampu merusak habitat alam yang ada, mengingat dua sungai tersebut pernah digunakan sebagai jalur transportasi ekonomi disaat jalur kereta belum dibuat.

Atas usaha untuk menjaga kelestarian tersebut akhirnya tercipta alternatif wisata selain batik dan sejarah namun juga wisata alam.

Hal ini sangat diminati para wisatawan baik domestik maupun mancanegara, tidak hanya individu bahkan banyak yang hadir secara rombongan dengan skala besar.

Wisata alam di Kampung Batik Laweyan akhirnya juga ikut melebar hingga wilayah Kabupaten Sukoharjo yang mana masih banyak memiliki lahan lapangan dan persawahan luas.

Kolaborasi wisata alam dan wisata edukasi batik sering dilakukan dan banyak diminati oleh masyarakat hingga saat ini, sebuah variasi dalam pengembangan usaha wisata.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved