Mengenal Sejarah Kampung Batik Laweyan, dari Tempat Jual Candu hingga Menjadi Wisata Batik

Kampung Batik Laweyan dari pasar Candu hingga menjadi cagar budaya nasional

tribunsolo.com/muhammad irfan al amin
Pasangan pekerja tuna rungu yang bekerja sebagai penjahir di Kampung Batik Laweyan 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO - Banyak masyarakat yang melakukan kunjungan ke Kampung Batik Laweyan, baik untuk berbelanja maupun melakukan edukasi wisata.

Namun tak banyak yang tahu mengenai asal-usul sejarah mengenai kampung tersebut, berikut penjelasannya.

Berdirinya Kampung Batik Laweyan tidak lepas dari sejarahnya yang dahulu merupakan sebuah pasar dengan nama Pasar Laweyan di masa Paku Buwono II.

Di masa Paku Buwono II wilayah Laweyan merupakan tanah kekuasaan milik Ki Ageng Henis yang mana makamnya terletak di samping Masjid Laweyan.

Hingga saat ini makam Ki Ageng Henis ramai dikunjungi masyarakat untuk berziarah.

Selain keberadaan Pasar Laweyan, kawasan Kampung Batik Laweyan juga dekat dengan kebun kapas sehingga memperkuat pengaruh industri bahan baku kain.

Dilansir dari tulisan Dhian Lestari dengan judul "Struktur dan Fungsi Interior Dalêm Indis bagi Saudagar Batik Laweyan di Awal Abad ke-20" di jurnal Dewaruci terbitan ISI Solo, bahwa laweyan berasal dari kata lawe yang bermakna bahan baku tenun.

Maka disaat pasar tersebut masih berdiri, banyak terjadi transaksi jual beli bahan bauk tenun seperti kapas dan perlatan tenun.

Para pedagang yang berada di Pasar laweyan kala itu, sebagian besar merupakan orang-orang Cina yang diberi hak khusus oleh Belanda.

Selain dijual bahan tenun, ditempat tersebut juga banyak terjadi jual beli komoditi candu, seperti daun ganja atas seizin Belanda dengan maksud menghancurkan masyarakat dan memecah kekuasaan Keraton Kasunanan dari sisi ekonomi dan moral.

Banyaknya pedagang asal Cina menimbulkan asimilasi dan percampuran penduduk terutama banyak dari pedagang Cina yang menikah dengan penduduk setempat, sehingga terjadi pertukaran budaya.

Pengaruh budaya Cina bertahan hingga saat ini, seperti jiwa dagang para keturunannya yang masih terlihat di wilayah Laweyan.

Perkembangan Laweyan tidak hanya berada di sektor darat, namun juga di wilayah sungai dan bandar, yang berfungsi sebagai jalur transportasi penghubung hingga Bengawan Solo.

Jalur sungai tersebut menghubungkan para pendudukan Kampung Laweyan dengan masyarakat lokal hingga internasional.

Akibat hal tersebut Laweyan berubah dari sentra perdagangan bahan baku tenun berubah menjadi produsen kain mori dan pembuat batik cap.

Perubahan tersebut didasari oleh munculnya rasa penghargaan terhadap batik, yang lekat dengan kehidupan para bangsawan keraton.

Namun di Laweyan terdapat sebuah perbedaan dalam proses membatik, yaitu dilakukan dengan cap, walaupun masih terdapat beberapa yang ditulis dengan dengan tangan.

Hal ini terjadi dikarenakan adanya disparitas antara bangsawan Keraton yang mengagungkan batik tulis dan menjadikannya sebagai perlengkapan simbolik atas pangkat kekuasaan.

Selain itu, terdapat sejumlah permintaan dari para konsumen daerah, dikarenakan batik sudah menjadi barang konsumtif bagi rakyat.

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved