Mengenal Samanhudi, Sosok Perintis Kemerdekaan Bernama Kecil Sudarno Nadi

Mengenal Samanhudi, yang bernama kecil Sudarno Nadi. Sukses menjadi pedagang batik dan berkiprah dalam dunia persarekatan

Mengenal Samanhudi, Sosok Perintis Kemerdekaan Bernama Kecil Sudarno Nadi
tribunsolo.com/irfanamin
Foto Samanhudi dan istri, Suginah 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO - Apabila mendengar Sarekat Islam, tentu akan lekat dalam bayangan adalah H.O.S Tjokroaminoto, sebagai salah ketua dan penggeraknya, dan Surabaya akan lekat sebagai kota pergerakannya. 

Namun ada sosok di balik semua itu yang menjadi pencetus dan peletak ide dasar, dialah Samanhudi.

Sang pemilik nama kecil, Sudarno Nadi, lahir dari seorang saudagar batik yang kelak akan diteruskan olehnya dikala dewasa yaitu Haji Ahmad Zein.

Bersamanya terdapat dua orang saudara yaitu Alwi dan Amir yang kesemuanya merupakan haji dan tentu dari kalangan berada. 

Lahir dari keluarga islami, membuatnya mendapat kesempatan akan pendidikan yang baik, dirinya sempat menduduki bangku sekolah dasar Bumiputera meskipun hanya hingga dua tahun. 

Walaupun pendidikan formal hanya dua tahun, Samanhudi kecil tak urung dalam belajar, dia kunjungi berbagai tempat pembelajaran agama baik langgar maupun pesantren, dari sekitar Laweyan hingga di berbagai wilayah Jawa, dari barat hingga timur, dan salah seorang gurunya adalah Kiai Djodjerno dari Surabaya.

Oleh karena latar belakang keluarganya yang baik dan ilmu agamanya yang mumpuni, maka dijodohkanlah dengan seorang anak Kiai yang masih berada di satu wilayah Laweyan, seorang gadis bernama Suginah, anak Kiai Bajuri.

Momentum pernikahan tersebut membuatnya mengganti namanya dari Sudarno Nadi menjadi Wirjowikoro, yang diadaptasi dari nama kakek dari ayahnya, Kartowikoro.

Pasca menikah dengan Suginah, Wirjowikoro kembali menikah dengan Marbingah, seorang putri keluarga Mangkunegaran.

Lahir dari keluarga pengusaha membuatnya juga piawai dalam mengelola bisnis batik, hal ini ditunjukkannya dalam performa bisnis yang selalu menghasilkan untung signifikan dengan rata-rata f.800,- sehari, dan itu tergolong sangat tinggi dibanding gaji bupati yang berada diangka f.100,- sebulan. 

Besarnya keuntungan yang didapat membuat Wirjowikoro membangun cabang di hampir setiap daerah di Pulau Jawa, meliputi, Solo, Bandung, hingga Banyuwangi. 

Bahkan menurut salah satu cicit, Yuyun Damayanti, mengatakan bahwa kakek buyutnya juga memiliki sebuah kapal yang dulu digunakan untuk berdagang dan berlabuh di Tanjung Priok, Surabaya, namun kini kapal tersebut tak jelas rimbanya. 

Sehingga dengan mobilitas yang tinggi, Wirjowikoro memiliki banyak relasi dagang dan murid ideologi di setiap daerah yang dikunjungi untuk berdagang.

Pada tahun 1904, Wirjowikoro berangkat ke Mekkah untuk menjalankan ibadah haji, di masa itu ibadah haji sangatlah lama karena menggunakan kapal, oleh karenanya di masa perjalanan banyak digunakan untuk menuntut ilmu bersama ulama yang sedang berangkat maupun yang menetap di Mekkah.

Selama dalam proses ibadah tersebut, dirinya mengalami mimpi memiliki lidah yang sangat panjang dan dikisahkan dapat melilit dunia dengan lidahnya.

Mimpi tersebut menghampirinya lebih dari sekali, hingga dirinya meyakini bahwa itu merupakan petunjuk, hingga ditanyakanlah perihal mimpi tersebut kepada ahli tafsir. 

Sang ahli tafsir pun memberi jawaban bahwasanya si Wirjowikoro kelak akan menjadi pemimpin besar di negerinya. 

Jawaban yang diberikan, membuat wirjowikoro terheran-heran, mengingat dirinya bukan orang yang memiliki ambisi terhadap keinginan tersebut.

Pasca pergolakan yang ada di pikirannya selama melaksanakan ibadah haji, pulanglah dia dengan nama baru yaitu Haji Samanhudi bertepatan di tahun 1904. 

Sesampainya di tanah nusantara, dengan nama baru Samanhudi, maka dimulailah gerakan keagamaan untuk mengingat kematian dengan nama, Mardhi Budhi, yang berlanjut hingga pada pendirian Sarekat Dagang Islam.

Diawal pendirian Sarekat Dagang Islam, organisasi tersebut bertujuan menghimpun para pedagang untuk melawan ketidakadilan terhadap pemerintah Kolonial Belanda yang diskriminatif dan selalu memprioritaskan para pedagang Cina, sehingga pedagang pribumi dibuat susah dan pedagang Cina semakin serakah juga memegang kendali terhadap monopoli dagang.

Melalui sarekat tersebut mulailah terserap banyak anggota yang ternyata tidak hanya dari kalangan pedagang saja, namun juga dari rakyat biasa yang notabene merupakan petani dan karyawan rendahan. 

Walaupun banyak melawan para pemerintah kolonial dan pedagang Cina dikarenakan ketidakadilan, Samanhudi tidak memiliki tendensi sama sekali secara rasial. 

Hal ini dibuktikan oleh Samanhudi yang memiliki banyak relasi dari sebagian pedagang Cina yang masih berhati baik dan jujur.

Selain melakukan kritik dan perlawanan secara organisasi, Samnhudi juga memberi dukungan terhadap para pembakar gudang tembakau milik pedagang Cina yang curang, tidak hanya memberi restu bahkan juga memberi uang saku.

Hal ini tertulis dalam biografi Haji Samanhudi terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

"Ia tidak hanya memberi restu atau memberikan persetujuan, tetapi juga memberi bantuan berupa uang untuk bekal dan membeli alat-alat yang diperlukan."

Besarnya pengaruh Samanhudi, juga terlihat ketika dirinya mampu memberikan kritik secara terbuka kepada Susuhunan raja Surakarta agar tidak terlalu menaruh hormat kepada residen Surakarta.

Dikarenakan menurut Samanhudi, pemimpin keraton merupakan khalifah, yang memiliki makna sebagai wakil Allah di muka bumi.

Meskipun duduk sebagai pimpinan, Haji Samanhudi termasuk orang yang tidak pandai dalam berpidato, sehingga pidatonya akan terasa singkat dan sederhana, namun tetap berisi pesan yang dalam dan memberikan alasan yang kuat sehingga pendengarnya mampu memahami dan mau mengikuti.

 Dalam bidang penulisan, dirinya tidak aktif, namun beberapa kali menjadi narasumber tulisan dan menurut Sosro Koonio wartawan Sarotomo, bahwa Samnhudi merupakan seorang yang dapat menjadi sumber ide dan gagasan. 

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved