Samanhudi serta Kiprahnya di Sarekat Islam dan Perintisan Kemerdekaan

Sarekat Islam dan Samanhudi sangat lekat dan tidak bisa dipisahkan, atas kinerja dan kerja kerjanya maka dianugerahi Pahlawan Perintis Kemerdekaan

Samanhudi serta Kiprahnya di Sarekat Islam dan Perintisan Kemerdekaan
Tribunnewswiki.com
Foto Haji Samanhudi dengan latar belakang rapat Sarekat Islam 

Adapun yang tercatat sebagai anggota antara lain; Sumowardojo, Hardjosumarto, Martodikoro, Wirjotikoro, Sukir, Suwandi, Suropranoto, dan Djerman, mereka semua adalah pengurus angkatan pertama dibawah Samnhudi.

Mengenai kapan tepatnya SDI berdiri beberapa ahli sejarah memiliki riwayat penjelasan yang berbeda, seperti Tamar Djah: tanggal 16 Oktober 1905; Abu Hanifah: September 1906; Deliar Noer: 11 September 1911; dan menurut residen Surakarta van Wijk awal tahun 1912.

Di jelaskan dalam buku Haji Samanhudi yang ditulis oleh Muljono dan Sutrisno Kutoyo, pendirian SDI ada di dua tempat yaitu Solo oleh Haji Samanhudi dan Bogor oleh R.M. Tirtoadisurjo,

namun yang di Solo lebih berkembang hingga mendirikan sebuah surat kabar bernama Sarotama dan perkumpulan khusus ekonomi bernama Darmohatmoko.

Diawal pendiriannya Haji Samnhudi memberikan sebuah pidato pengarahan, yang didalamnya disampaikan mengenai arah, gagasan serta cita-cita dari SDI tersebut.

Samanhudi menyatakan bahwa di Hindia Belanda waktui itu manusia dibuat menjadi berkasta-kasta, dimulai dari Bangsa Belanda, China barula bumiputera sebagai pribumi terletak paling bawah, bahkan disebut sebagai bangsa kelas kambing.

Disebutkan pula bahwa kelas sosial itu sengaja diciptakan agar bangsanya selalu dijajah dan diperas seluruh kekayaan alamnya.

Walaupun terdengar sederhana secara bahasa dan disampaikan secara biasa, tanpa seni pidato yang muluk, namun memiliki makna yang mendalam, bahkan mampu membangkitkan semangat dan rasa kebersamaan para masyarakat yang notabene belum bisa membaca dan menulis.

Pasca pidato oleh Samanhudi mulai tersebarlah berita mengenai SDI dan berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi anggota, terdiri atas pedagang hingga buruh, kaum terdidik hingga buta huruf.

Akibat keanekaragaman anggota dan tujuan organisasi yang mulai menggeser dari sekedar melawan penindasan dan ketidakadilan Pemerintah Belanda dan monopoli pedagang China berubah menjadi organisasi kebangsaan dan perjuangan.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved