Samanhudi serta Kiprahnya di Sarekat Islam dan Perintisan Kemerdekaan

Sarekat Islam dan Samanhudi sangat lekat dan tidak bisa dipisahkan, atas kinerja dan kerja kerjanya maka dianugerahi Pahlawan Perintis Kemerdekaan

Samanhudi serta Kiprahnya di Sarekat Islam dan Perintisan Kemerdekaan
Tribunnewswiki.com
Foto Haji Samanhudi dengan latar belakang rapat Sarekat Islam 

Pertumbuhan itu juga menimbulkan beberapa perseteruan antara anggota Sarekat Islam dengan orang-orang China di berbagai penjuru daerah, seperti perkelahian di Semarang, Surabaya, hingga Kudus, hingga melibatkan serdadu Jawa dan Legiun Mangkunegaran untuk melerai pertiakain tersebut.

Namun segala pertikaian yang bersifat kebencian rasialis, seluruhnya bukan atas dasar perintah maupun restu dari Samanhudi, yang memiliki banyak kenalan dengan orang-orang China yang tidak semena-mena dan memonopoli pasar.

Sarekat Islam yang tidak anti China dapat dibuktikan dengan beberapa fakta yang berasal dari edaran yang dikeluarkan oleh haji Samanhudi pada 28 dan 29 mei 1912, antara lain:

1. Jika terjadi gangguan dari orang China maka para anggota SI wajib mengalah, dan apabila mengalah orang China tersebut masih sombong dan menggangu maka wajib dilaporkan kepada polisi.

2. Selama diadakan pesta atau hajatan orang China perlu adanya pengamanan, maka SI siap memberikan batuanatas seizin pengurus.

Sempat pula diskors selama beberapa bulan dan selama itu tidak boleh ada perkumpulan maupun aktifitas organisasi menyangkut SI hingga penyelidikan yang dilakukan oleh pihak residen dan tidak ditemukan adanya proses pemberontakan maupun pembangkangan.

Maka pada 26 Agustus 1912, Sarekat Islam kembali dinyatakan aktif kembali oleh Residen Surakarta, dengan beberapa persyaratan seperti perubahan pasal AD/ART.

Setelah peristiwa penskoran Haji Samanhudi segera mengadakan konsolidasi dan berusaha menemukan kader penerus untuk SDI, maka ditemukanlah H.O.S Tjokroaminoto, yang kelak akan mengalami penebaran dan penyebaran yang sangat luas.

Setelah bertemu dengan Tjokroaminoto, haji Samanhudi mulai memberikan tugas untuk memperbaiki beberapa pasal AD/ART dan menjelaskan bahwa SDI merupakan organisasi sosial non politik.

DIbawah kepengurusan Tjokroaminto pula nama Dagang di SDI mulai dihapus, dan menyisakan Sarekat Islam saja dan dapat menyerap segala aspirasi dan permasalahn tidak berkutat masalah dagang saja.

Nama besar islam yang digunakan menjadi pemersatu anggota dengan kepentingan yang sama.

Atas Jasa Samanhudi itulah sebagai pendiri dari Sarekat Islam, pasca wafatnya pemerintah menghadiahi anugerah Pahwlawan Perintis Kemerdekaan di era kepresidenan Sukarno. 

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved