Riwayat Penolakan Pambangunan Patung Slamet Riyadi Solo

Berikut kisah penolakan patung Slamet Riyadi, dari Budayawan hingga Akademisi

tribunsolo.com/adisuryasamoedra
Patung Slamet Riyadi di kalam malam hari 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, MUHAMMAD IRFAN AL AMIN

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO - Di balik kokohnya patung Slamet Riyadi yang memiliki tinggi 11 meter dan berdiri tegak dengan beberapa lapisan perunggu di dalamnya, terdapat cerita penolakan dalam proses pembuatan patung tersebut.

Hal ini sesuai penuturan salah seorang penanggungjawab dalam proses pembuatannya yaitu Sadputro Adi Nugroho, yang kala itu menjabat sebagai Dandim.

Sadputro menjelaskan bahwa penolakan terjadi atas beberapa alasan di antaranya, mengenai agama, hingga ideologi yang dianut oleh Slamet karena dianggap berhaluan pada komunis.

Namun oleh Sadputro berbagai penentangan berhasil dikomunikasikan dengan baik dan dirinya menyebut menyelesaikan masalah menggunakan soft power dan pendekatan persuasif.

Hingga akhirnya disaat peresmian, masyarakat yang semula menolak ikut menghadiri dan menyetujui mengenai keberadaan patung Slamet Riyadi.

Bahkan banyak di antara budayawan yang menghibur dalam penampilan peresmian, sebelumnya menentang keras keberadaan patung Slamet Riyadi yang posenya mengangkat senjata.

Walaupun penolakan berhasil diselesaikan dengan baik, berkat upaya pendekatan persuasif oleh pihak TNI maupun Pemerintahan Kota Surakarta, namun kritik tetaplah bergulir.

Aris Santoso, salah seorang pengamat militer mengkritik bentuk visual dari patung yang tidak mencerminkan semangat zaman pasca reformasi.

Menurutnya, patung Slamet Riyadi di kota Solo harus menunjukkan kebudayaan dan keilmuan seperti karakteristik kotanya yang identik dengan budaya.

Sehingga Aris menyesalkan, patung tersebut hanya terlalu menunjukkan sisi militer tanpa ada aspek lainnya.

Proses pembuatan patung tersebut menghabiskan waktu lebih dari satu tahun, dimulai pada 18 Desember 2006 dan diresmikan pada 12 November 2007.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved