Kisah Ketegangan Soekarno dan Moewardi Sebelum Proklamasi

Moewardi yang merupakan seorang dokter sempat bersitegang dengan presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat sebelum pembacaan teks proklamasi.

Kisah Ketegangan Soekarno dan Moewardi Sebelum Proklamasi
Dokumentasi Keluarga Moewardi yang diberikan kepada Tribunsolo.com
Sosok Moewardi diasmping Sukarno saat membaca do'a pasca pembacaan teks proklamasi 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Menjelang pembacaan teks proklamasi, yang dilakukan Soekarno di hadapan sejumlah rakyat di rumahnya, Jalan Pegangsaan, Jakarta, sempat terjadi ketegangan.

Akibat perbedaan pendapat antara Soekarno dan Moewardi, akibat Hatta belum menampakkan dirinya beberapa menit sebelum acara.

Moewardi berkehendak agar Soekarno tetap membaca teks proklamasi, apapun yang terjadi, baik Hatta hadir maupun tidak.

Maksud Moewardi tentu dapat dipahami dikarenakan situasi pada tanggal 17 Agustus 1945, masih tidak aman dan tentara Jepang masih mengawasi, sehingga apabila teks proklamasi tidak segera dibaca, khawatir akan dibubarkan acara tersebut. 

Namun Soekarno menolak ide tersebut dengan tegas, seraya berkata,

"Kalau Mas Moewardi tidak mau menunggu silakan baca teks sendiri!"

Beruntung, Hatta tak lama muncul disambut dengan sorak sorai tepuk tangan dari para masyarakat yang menyambutnya.

Itulah Moewardi, sosok alumni sekolah kedokteran STOVIA, yang tidak hanya berkiprah di dunia pengobatan namun juga dalam dunia pertahanan hingga politik.

Hal itu dikarenakan latar belakang pendidikan sosok Moewardi juga merupakan seorang pandu yang saat ini menjadi Pramuka.

Walaupun antara Soekarno dan Moewardi sempat bersitegang namun keduanya kembali akrab, bahkan setelah pembacaan teks proklamasi Moewardi juga menjadi pemberi sambutan dalam agenda. 

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved