Batik Kauman: dari Usaha Sampingan Istri Abdi Dalem, Menjadi Industri Utama di Kota Solo

Kerajinan Batik Kauman dahulunya bukan merupakan industri besar melainkan hanya usaha sampingan istri abdi dalem Keraton Surakarta

Batik Kauman: dari Usaha Sampingan Istri Abdi Dalem, Menjadi Industri Utama di Kota Solo
TRIBUNSOLO.COM/MUHAMMAD IRFAN AL AMIN
Salah satu sudut fotografi Kampung Batik Kauman yang ikonik 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI. COM, SOLO  - Transformasi industri batik di wilayah Kauman sangatlah pesat,.

Sebelumnya, wilayah ini merupakan industri rumahan dan mayoritas menjadikannya sebagai sampingan.

Namun kini berubah menjadi usaha utama, walaupun secara skala usaha industri masih rumah tangga.

Kebutuhan industri batik pun semakin tinggi dan persaingan antar pengusaha pun terjadi, maka inovasi lain pun dicari dan salah satunya dengan metode stempel atau cap.

Metode ini dikenalkan di pertengahan abad ke 19, dengan menggunakan cap yang terbuat dari garis-garis tembaga dan ditempelkan pada sebuah alas dan diberi pegangan.

Melalui alat tersebut jumlah produksi batik mampu ditekan dalam jumlah banyak dengan ongkos produksi lebih minimal, bahkan jumlah tenaga kerja juga mampu ditekan secara efisien.

Di saat kolonial Belanda membuka ekspansi perkebunan, dan masyarakat Surakarta banyak dipekerjakan sebagai buruh, keuangan Hindia Belanda kala itu mulai berputar dan salah satu komoditi yang paling banyak dibeli adalah kain dengan motif batik.

Akibat hal tersebut jumlah statistik kain katun impor mengalami kenaikan dua kali lipat dari 9.837 juta gulden di tahun 1850 naik menjadi 20.943 juta gulden di tahun 1860.

Satu dekade selanjutnya di tahun 1870, jalur kereta api mulai dibuka dan menghubungkan antar wilayah dari pedesaan ke kota, maupun dengan kota-kota lainnya.

Hal tersebut yang membuat keran ekonomi industri batik meningkat tajam, hingga pada tahun 1880, ekonomi Kota Surakarta sempat mengalami depresi.

Krisis yang bersifat internasional dan menyerang banyak wilayah di dunia kala itu tidak bertahan lama, dan memasuki abad ke-20 ekonomi kembali membaik.

Pada tahun 1910-an batik Solo mulai mendomiansi pasar nasional dan mulai bersaing dengan batik pekalongan terutama dalam pemasaran di wilayah Jawa Barat.

Meskipun ada banytak pabrik pembuatan batik yang ada di wilayah Kota Surakarta, namun Kauman dan Laweyan tetap menjadi sentra usaha.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved