Batik Kauman, Hasta Karya Bangsawan Keraton Solo yang Melegenda hingga Kini

Batik Kauman merupakan warisa budaya yang masih diteruskan hingga saat ini dan terjaga menjadi industri utama di Kelurahan Kauman, Surakarta

TRIBUNSOLO.COM/MUHAMMAD IRFAN AL AMIN
Salah satu gerai butik milik Koperasi Serba Usaha (KSU) Syarikat Dagang Kauman (SDK) Surakarta 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI. COM, SOLO - Adanya Kelurahan Kauman tentu tidak bisa lepas dengan keberadaan Keraton Surakarta, yang sedari awal menempatkan Kauman sebagai salah satu sub sistemnya yang ikut menunjang kehidupan keseharian keraton.

Pada mulanya saat awal pendirian Kelurahan Kauman, para warganya berprofesi sebagai abdi dalem ulama saja.

Namun seiring berjalannya waktu para masyarakat mulai mengembangkan profesi lain yaitu menjadi pengusaha batik, dari memproduksi dan mayoritas menjualnya kepada para penghuni keraton.

Pihak keraton sendiri sangat mendukung kegiatan membatik para abdinya tersebut, dan mereka tetap memberikan gaji serta jaminan hidup bagi abdi dalem.

Karena dukungan dari pihak keraton, iklim wirausaha di Kauman bertumbuh dengan pesat, hingga akhirnya permintaan pesanan tidak hanya bagi keraton saja namun juga menyebar di masyarakat lainnya.

Masyarakat Kauman dalam memproduksi batik melakukan pembagian kerja diantara suami dan istri, dengan menempatkan suami pada pekerjaan abdi dalem sebagai pencari nafkah utama dan istri tetap di rumah dengan mengisi waktunya membuat batik.

Dilansir dari buku Kauman: Religi, Tradisi dan Seni yang diproduksi Paguyuban Kampung Batik Kauman menyebutkan bahwa para istri abdi dalem tersebut belajar membatik dari para kerabat kebangsawanan keraton.

Kemampuan tersebut semakin diasah seiring dengan banyaknya jumlah pesanan yang mengalir, maka dengan pola kekerabatan yang dijunjung di Kelurahan Kauman, sebanyak apapun pesanan selalu mampu untuk dipenuhi.

Para istri abdi dalem membatik dengan menggunakan tangan secara langsung dan hanya berbekal canting, tidak seperti saat ini yang telah memiliki ragam modifikasi alat dan motif.

Namun seiring berkembangnya zaman, dan roda perekonomian berkembang sangat cepat, para abdi dalem keraton banyak merintis usaha dan menjadikannya sebagai komiditi utama.

Mereka yang memulai usaha antara lain: Khotib Trayem IV, Khotib Trayem V, Khotib Arum (R.Ng. Pringgokusumo), Khotib Anom (R.Ng. Jogodipuro), Khotib Iman (R.Ng. Wongsodipuro).

Saat ini industri batik kauman telah tumbuh dengan pesat dan berkembang di seluruh sudut Kelurahan Kauman, sehingga tidak hanya diperuntukkan bagi bangsawan saja namun masyarakat biasa pun bisa membeli dengan beragam variasi harga dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved