Abu Bakar Ba'asyir dan Pondok Al Mukmin Ngruki

Abu Bakar Ba'asyir merupakan tokoh pendiri dan pendidik di Pondok Al Mukmin Ngruki, yang saat ini masih ditahan dikarenakan kasus terorisme

TRIBUNNEWS.COM
Abu Bakar Ba'asyir bersama Yusril Ihza Mahendra dalam proses pembebasan masa tahanan 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SUKOHARJO – Kegiatan pendidikan dan pembelajaran dari Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki tak lepas dari peran seorang Abu Bakar Ba'asyir, seorang ulama dengan latar belakang pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Al Irsyad.

Lahir di Jombang, Jawa Timur pada 17 Agustus 1938 dan juga memiliki julukan Ustadz Abu dan Abdus Somad.

Dalam wawancara dengan Abdul Rahim, putra Abu Bakar Ba'asyir, bersama jurnalis TribunSolo disebutkan bahwa sebelum mendirikan pesantren Al Mukmin Abu Bakar Baasyir aktif mengajar dan berdakwah di Masjid Agung Solo.

Selain itu selama masa kuliahnya, pada akhir tahun 1960-an muncul Radio Al-Irsyad Broadcasting Centre (ABC) yang diisi oleh para da'i muda Universitas Al Irsyad Surakarta.

Abu Bakar Ba'asyir bersama rekannya Abdullah Sungkar fokus dalam kegiatan berdakwah pada radio tersebut.
Namun dalam perjalanan dakwahnya terdapat konflik internal antara Abu Bakar, Abu Sangkar dan pihak Al Irsyad.

Abdul Rahim menuturkan kedua pihak bermasalah terkait konten yang disajikan dalam radio.

Pihak Al Irsyad berharap ada penambahan konten hiburan serta adanya tambahan iklan sehingga ada pemasukkan dalam pola administrasi.

Sedangkan Abu Bakar beserta rekannya berharap radio hanya berfokus pada dakwah dan ceramah keagamaan.

Maka fokuslah Abu Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir membangun RADIS (Radio Dakwah Islamiyah).

Perjalanan RADIS juga mengalami banyak cobaan dan salah satunya adalah pembredelan dari pihak orde baru.

Meskipun perjalanan Abu Bakar Ba'asyir penuh liku dan sering keluar masuk penjara, namun tidak mempengaruhi terhadap perkembangan serta eksistensi Pondok Al Mukmin Ngruki Hingga saat ini.

Bahkan oleh pemerintah tetap diakui dan dianggap setara dengan sekolah SMP dan SMA lainnya, sehingga setiap lulusannya dapat mendaftarkan diri mereka untuk masuk ke dalam universitas-universitas negeri.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved