Mengenal Isi Perjanjian Giyanti, Pembagian Dua Kekuasaan Mataram Islam

Mengenal sejumlah klausa Perjanjian Giyanti yang memecah kekuasaan politik dan wilayah Kerajaan Mataram Islam

Mengenal Isi Perjanjian Giyanti, Pembagian Dua Kekuasaan Mataram Islam
Arsip Nasional Republik Indonesia
Naskah asli Perjanjian Giyanti yang membagi wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO - Berdasarkan Perjanjian Giyanti yang dilaksanakan pada 13 Februari 1755 , disepakati bahwa Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah.

Perjanjian ini muncul setelah sebelumnya terjadi perseteruan antara Paku Buwono III dan Pangeran Mangkubumi, oleh VOC permasalahan tersebut diselesaikan dengan sebuah kesepakatan. 

Maka disepakatilah bahwa wilayah Kerajaan Mataram Islam terbagi dengan garis batas Kali Opak, sebelah barat dikuasai Pangeran Mangkubumi dan berkedudukan di Yogyakarta.

Sebelah timur dikuasai oleh Sunan Paku Buwana III dan berkedudukan di Surakarta.

Selain itu terdapat beberapa klausa perjanjian yang mengikat, merugikan kedua belah pihak dan sangat menguntungkan bagi VOC. Antara lain:

1. Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan dengan gelar Hamengkubuwana I pada separo wilayah Kesultanan Mataram dengan hak turun temurun yang didapatkan para pewarisnya.

2. Selalu diusahakan adanya kerjasama antara rakyat yang berada di bawah kekuasaan VOC dengan rakyat dibawah pemerintahan Kesultanan.

3. Sebelum Pepatih Dalem (para pemegang kekuasaan eksekutif sehari – hari) dan bupati – bupati mulai melaksanakan tugas masing – masing mereka harus bersumpah setia kepada VOC di tangan Gubernur.

4. Sultan tidak dapat mengangkat atau memberhentikan Pepatih Dalem dan Bupati tanpa persetujuan VOC.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved