Mengenal Lokasi Perjanjian Giyanti yang Selalu Ramai Dikunjungi Masyarakat dari Wisata hingga Semedi

Lokasi Perjanjian Giyanti di Kabupaten Karanganayr tidak hanya dikunjungi sebagai lokasi wsiata edukasi namun juga tempat mencari wangsit

PEMKAB KARANGANYAR
Suasana kirab budaya di lokasi Perjanjian Giyanti 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, KARANGANYAR - Beralamatkan di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berdiri dua pohon beringin diapit oleh sebuah pagar bercat putih.

Berdiri juga sebuah masjid yang dikelilingi oleh area persawahan dan lapangan rerumputan yang selalu terawat dengan nyaman.

Masyarakat sekitar menyebut lokasi tersebut dengan Perjanjian Giyanti.

Karena memang disanalah terjadi Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Di tempat itu pula terdapat seorang juru kunci yang memperkenalkan dirinya kepada TribunSolo dengan nama Bahadi Siswanto.

Setiap tanggal 13 Februari di lokasi Perjanjian Giyanti selalu diadakan acara kirab budaya guna memperingati perjanjian tersebut.

Bahadi menceritakan di atas tanah yang saat ini ditumbuhi dua pohon beringin tersebut dulunya terdapat sebuah pendopo.

Namun bangunan pendopo saat ini sudah tiada dikarenakan rusak lalu sempat ditumbuhi pula dengan pohon ipik hingga pohon tersebut mati dan digantikan oleh pohon beringin.

Asal mula kata Giyanti menurut Bahadi, dari para orang Belanda yang tidak bisa melafalkan kata Janti sebagai nama desa kala itu, dan menyebutnya dengan Giyanti sebagai pelafalan orang Belanda.

Maka dari sanalah perjanjian tersebut disebut dengan Giyanti dan saat ini desa tersebut bernama Jantiharjo. 

Saat TribunSolo berkunjung hanya tersisa dua buah batu sebagai bukti tempat perjanjian dan oleh masyarakat diletakkan bunga dan sesajen.

Selain itu, TribunSolo juga mengonfirmasi kepada sejarawan yang juga menjabat Ketua Komunitas Sejarah Solo Societeit, Dani Saptoni, bahwasanya peninggalan dari bukti Perjanjian Giyanti sebagian besar berada di Yogyakarta termasuk naskah perjanjian tersebut.

Selain digunakan untuk wisata edukasi, Bahadi juga menjelaskan bahwa lokasi Perjanjian Giyanti juga digunakan sebagai tempat untuk bersemadi dan mencari wangsit.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved