Sejarah Gedung Gedung Djoeang 45 Surakarta

Mengenal sejarah Gedung Djoeang 45 Surakarta yang menjadi ikon wisata dan edukasi bagi masyarakat mengenai histori peninggalan Koloni Belanda

Sejarah Gedung Gedung Djoeang 45 Surakarta
tribunsolo.com/muhammadirfanalamin
Prasasti penanda cagar budaya dari Pemerintah Surakarta 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO – Kompleks Gedung Djoeang yang beralamatkan di Jalan Mayor Sunaryo, Kelurahan Kedunglumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta.

Gedung tersebut mulai dibuka untuk umum sejak hari Jum'at 20 September 2019.

Namun tidak banyak masyarakat yang tahu bagaimana sejarah dari gedung tua tersebut.

Menurut akademis sekaligus budayawan UNS, Tundjung Wahadi Sutirto, bahwasanya Gedung Djoeang menjadi fasilitas pelayanan bagi tentara Belanda.

Gedung peninggalan Belanda ini dibangun sejak tahun 1880 satu abad setelah berdirinya Benteng Vastenburg yang mana berdekatan satu sama lain.

Tundjung juga menjelaskan bahwa tempat itu juga menjadi kantin bagi para tentara Belanda.

Karena difungsikan sebagai kantin, maka gedung itu dulu diberi nama cantienstraat yang berarti jalan kantin, sebelum diberi nama Gedung Djoeang 45.

Dalam perjalanannya saat Benteng Vastenburg semakin lama tidak mampu menampung para tentara Belanda, Gedung Djoeang juga difungsikan asrama militer (Solosiehoe Internaat).

Tidak hanya berfungsi sebagai kantin dan asrama bagi militer, Tundjung juga menyebut bahwa Gedung Djoeang juga sempat difungsikan sebagai klinik saat koloni Belanda masih berkuasa.

Dalam perjalanannya, kala nusantara jatuh ke tangan Jepang, Gedung Djoeang juga diambil oleh Jepang.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved