Sejarah Perjanjian Giyanti: Awal Mula Perpecahan Mataram Islam

Perjanjian Giyanti lahir dari perpecahan antara Pangeran Mangkubumi dan Paku Buwana II yang difasilitasi oleh VOC di Kabupaten Karanganyar

tribunsolo.com/muhammadirfanalamin
Lokasi Perjanjian Giyanti di Dukuh Ngerten, Desa Jantiharjo, Kabupaten Karanganyar 

Pemberontakan terjadi hingga Paku Buwono II wafat, dan sebelum wafatnya VOC memaksa agar Paku Buwono menanda tangani perjanjian agar melimpahkan kewenangan pengangkatan raja baru pada VOC.

Akibat hal tersebut Pangeran Mangkubumi yang sempat mengklaim dirinya sebagai raja baru menjadi sirna, karena VOC memilih Raden Mas Soerjadi putra Paku Buwono II untuk menggantikan ayahnya.

Tidak terima dengan keputusan VOC, Pangeran Mangkubumi beserta Raden Mas Said kembali menyerang Kasunanan Surakarta dengan bantuan Pangeran Hadiwijaya dari berbagai arah.

Di usianya yang masih belia, yaitu 17 tahun, Raden Mas Soerjadi dalam mengambil kebijakan banyak dipengaruhi oleh VOC, sehingga dirinya sering menjadi bingung akibat minimnya pengalaman.

Akibat pemberontakan yang selalu gagal dipadamkan, VOC melakukan taktik devide et impera yaitu politik adu domba dengan memecah belah antara Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said.

Pada tahun 1755 VOC menjanjikan kepada Pangeran Mangkubumi separuh wilayah Mataram jika berhenti memberontak.

Setelah sekian lama usaha dan bujuk rayu dari utusan-utusan VOC yang kepada pihak pemberontak dan Kasunanan terwujudlah satu buah perundingan di Desa Jantiharjo.

Namun dalam ejaan Bahasa Belanda nama Janti berubah menjadi Gianti, sehingga disebut dengan Perjanjian Gianti.

Hadir sebagai perwakilan VOC, N.Hartingh (Gubernur VOC untuk Jawa Utara) bersama Kapten Donkel dan Sekretaris Fockens.

Pangeran Mangkubumi hadir bersama Pangeran Notokusumo dan Tumenggung Ronggo.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved