Timlo: Makanan Khas Solo yang Melegenda Sejak Era Kolonial Belanda

Masyarakat mengenal timlo sebagai makanan berkuah dengan beberapa taburan daging dan melekat dengan identitas Kota Solo.

tribunsolo.com/muhammadirfanalamin
Warung Timlo Sastro 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al Amin
TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO -Masyarakat mengenal timlo sebagai makanan berkuah dengan beberapa taburan daging dan melekat dengan identitas Kota Solo.

Heri menuturkan, ketika di zaman kolonial Belanda pada abad 19, masyarakat telah mengonsumsi kimlo atau yang saat ini dikenal dengan timlo.

Dalam buku Indrukken van een totok yang ditulis oleh Justus van Maurik menyebutkan bahwa harga semangkok kimlo hanyalah beberapa sen saja.

Para pedagang Cina lah yang berjasa menjualnya, dilihat oleh Justus van Maurik yang melihat secara langsung bagaimana proses transaksi sedang berlangsung.

Para pedagang Cina sebagian besar menjualnya dengan menggunakan pikulan dan berkeliling di sekitar wilayah Surakarta.

Sedangkan para pembelinya banyak yang membeli dan memnikmati sajian sup kimlo dengan berjongkok sembari berjongkok dan berbincang dengan para pedagang.

Menurut Heri, masakan timlo memiliki keunikan karena sanggup bertahan setelah sekian abad dan tetap diminati masyarakat.

Meskipun gempuran makanan luar dan identitas tionghoa yang melekat pada makanan tersebut yang sempat mendapat tekanan cukup keras pada masa orde baru.

Dengan tegas Heri menyampaikan masyarakat tidak boleh melupakan peranan budaya masyarakat dalam perjalanan sejarah timlo.

Walaupun bukan termasuk dalam sajian makanan khas pembesar keraton namun timlo tetap selalu eksis dengan kehadirannya yang mudah ditemukan di Pasar Gede Surakarta.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved