Heri Priyatmoko: Sang Sejarawan yang Mendongeng di Tengah Era Modern

Heri Priyatmoko, seorang sejarawan yang aktif dalam dunia akademisi dan penulisan baik jurnal ilmiah maupun media masa.

Istimewa
Heri Priyamoko sang sejarawan Kota Solo 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO - Heri Priyatmoko, seorang sejarawan yang aktif dalam dunia akademisi dan penulisan baik jurnal ilmiah maupun media masa.

Pria kelahiran Solo, 25 April 1985, saat ini aktif menjadi pengajar di Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang mengejar di bidang yang dia geluti juga yaitu Jurusan Sejarah.

Sebelum menjadi pengajar, Heri juga aktif menjadi mahasiswa di bidang ilmu sejarah di Universitas Sebelas Maret dan melanjutkan bidang magisternya ke Universitas Gadah Mada di jurusan yang sama.

Heri menuturkan kematangannya dalam menekuni ilmu sejarah, tidak hanya akibat pengaruh dunia perkuliahan saja namun telah dimulai sejak usia dini, dimana kedua orang tuanya kerap memberikan cerita dongeng.

Sejak mengenyam bangku kuliah strata 1, Heri telah menentukan pilihannya untuk fokus pada sejarah lokal yaitu Sejarah Kota Solo.

Tidak hanya aftif secara resmi dalam dunia sejarah, Heri juga mendirikan sebuah komunitas pecinta sejarah asal Kota Solo yang bernama Solo Societeit pada tahun 2018.

Komunitas tersebut aktif dalam melakukan kajian dan aktifitas napak tilas dalam berbagai macam situs sejarah di Kota Solo.

Nama Heri Priyatmoko cukup masyhur dalam dunia ilmu sejarah, apabila diketikkan namanya maka akan muncul beragam karya ilmiah yang pernah dia tulis.

Adapun tulisannya yang pernah dimuat antara lain:
1. SENIMAN DAN SENI PERTUNJUKAN DI KAMPUNG KEMLAYAN SURAKARTA 1930-1970, diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogya tahun 2019.
2. Kretek Indonesia: dari nasionalisme hingga warisan budaya, diterbitkan di jurnal Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada tahun 2014.
3. SEJARAH SOSIAL KOMUNITAS SENIMAN DI KEMLAYAN SURAKARTA 1930-an-1970-an, diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada tahun 2013.

Selain tiga tulisan di atas masih banyak tulisan lainnya yang dirinya tulis dan dipublikasi di berbagai macam media masa.

Meskipun dirinya melekat sebagai seorang sejarawan dan akademisi, namun Heri lebih senang dijuluki sebagai pendongeng dan pencerita sejarah agar dapat lebih dekat dengan masyarakat. 

Heri juga percaya mendongeng sejarah dapat menjaga ingatan mengenai identitas bangsa, meskipun di era milenial yang telah dikelilingi dengan berbagai macam teknologi. 

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved