Kisah Pembebasan Lahan Desa Sala Oleh Paku Buwana II, Diplomatis dan Tanpa Darah

Interaksi Ki Ageng Sala dan Paku Buwana II dalam proses pembebasan lahan Desa Sala dengan penuh kedamaian

Istimewa
Halaman depan Keraton Surakarta 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tragedi pemberontakan masyarakat etnis Cina terhadap Keraton Kartasura atau dikenal dengan istilah Geger Pecinan menyebabkan segenap punggawa dan bangsawan keraton harus mengungsi ke Ponorogo.

Setelah pemberontakan reda dan Susuhunan Paku Buwono II kembali ke Kartasura telah melihat kerajaannya hancur binasa dan rata dengan tanah.

Hal itu diakibatkan serangan demi serangan dari warga Cina yang dipimpin oleh Sunan Kuning atau Amangkurat III.

Bahkan saat pemberontakan tersebut terjadi pihak Belanda yang sering ikut campur dalam urusan kerajaan tidak berani untuk menangani.

Hingga akhirnya pemberontakan tersebut bisa berakhir saat Pangeran Cakraningrat dari Madura dan Raden Mas Sahid bersatu ikut membantu untuk memulihkan keadaan.

Dilansir dari Babad Sala yang ditulis R.M.Sajid, setelah kerajaannya rusak Paku Buwono II berunding dengan segenap kerabat keraton dan bupati di daerah.

Terdapat tiga kandidat wilayah yang akan difungsikan sebagai pengganti Kartasura, diantaranya : Desa Kadipolo (sekarang Taman Sriwedari), Desa Sala, Desa Sanasewu (sebelah barat Kecamatan Bekonang).

Akhirnya terpilihlah Desa Sala guna didirikan sebagai wilayah keraton yang baru.

Menurut Sejarawan Kota Solo, Heri Priyatmoko, pada saat pembebasan lahan Desa Sala untuk menjadi wilayah keraton terjadi suatu peristiwa yang menarik.

Pihak Kasunanan Surakarta membeli sejumlah lahan dengan nominal yang pantas atau bahkan bisa dikatakan dengan ganti untung.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved