Sejarah Keberadaan Kelurahan Sudiroprajan yang Berdiri Sejak Masa Kolonial

Keberadaan Kelurahan Sudiroprajan tentu tidak bisa lepas dari kisah sejarahnya yang panjang, sejak abad ke-19

tribunstyle.com
Suasana perayaan Gerebeg Sudiro 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLO.COM, Solo – Keberadaan Kelurahan Sudiroprajan tentu tidak bisa lepas dari kisah sejarahnya yang panjang.

Dimulai sejak abad ke-19, saat pemerintah Kolonial Belanda masih berkuasa, banyak pedagang dari Arab dan Cina yang datang ke Surakarta.

Kegiatan ekonomi tersebut membuat para pendatang harus berinteraksi dengan para pribumi setempat.

Melalui interaksi timbullah akulturasi dan pertukaran budaya, sehingga transaksi tidak hanya sebatas pada nilai dagang namun juga pada agama dan budaya.

Intensitas pedagang Tionghoa dalam melaksanakan jual beli di Kota Surakarta sangatlah tinggi.

Maka tidak sedikit dari mereka yang memilih bermukim dan berbaur menjadi penduduk setempat.

Oleh karenanya Pemerintah Kolonial Belanda membagi hunian berdasarkan kewarganegaraan dari mana dia berasal.

Pembagian tersebut seperti Kelompok Arab di Pasar Kliwon, Kelompok Eropa di Lojiwetan dan Kelompok Tionghoa di Pasar Gede yang saat ini menjadi Kelurahan Sudiroprajan.

Pada masa kolonial, Kelurahan Sudiroprajan dipimpin oleh sosok yang memiliki sebutan Babah Mayor.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved