Mengenal Pak Mantri, Sosok Kamus Berjalan yang Menjaga Klenteng Tien Kok Sie

Klenteng Tien Kok Sie, tempat peribadatan tiga agama yang yang menjadi salah satu simbol toleransi di Kota Surakarta

tribunsolo.com/muhammadirfanalamin
Sumantri DanaWaluyo Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Klenteng Tien Kok Sie saat ini berada dibawah kepemimpinan Sumantri Danawaluyo, seorang pengusaha yang bergerak di bidang pangan.

Semenjak mengetuai yayasan klenteng dari tahun 2005, perlahan namun pasti banyak inovasi yang mulai dia lakukan.

Wajah klenteng yang sebelumnya suram bahkan oleh sebagian besar masyarakat dianggap angker.

Olehnya hal itu dia perbaiki tanpa merubah bentuk asli dari klenteng.

Hanya pewarnaan serta penambahan hiasan sehingga sedap dipandang dan ramah bagi siapa pun yang hendak mampir.

Menghabiskan lebih dari dua dekade masa hidupnya di Belanda membuat Sumantri memiliki pikiran terbuka terhadap beragam ilmu pengetahuan.

Ketiak TribunSolo berkunjung menemui Sumantri atau yang biasa akrab dipanggil Pak Mantri, dirinya bercerita bahwa banyak buku yang telah dia baca termasuk diantaranya Al Qur'an dan Al Kitab.

Baginya semua buku adalah ilmu, dan karena pengetahuannya banyak masyarakat yang senang berdiskusi atau bertukar pikiran dengannya.

Kecintaannya akan ilmu pengetahuan dia salurkan kepada banyak pihak, diantaranya kepada Gavrila Sri Handini dan Sara Krismasiwi.

Gavrilla Sri Handini siswi SMP yang meneliti budaya Tionghoa bersama Sumantri Danawaluyo di Klenteng Tien Kok Sie
Gavrilla Sri Handini siswi SMP yang meneliti budaya Tionghoa bersama Sumantri Danawaluyo di Klenteng Tien Kok Sie (tribunsolo.com/muhammadirfanalamin)

Keduanya adalah siswi SMP di sebuah sekolah negeri di Surakarta yang membuat penelitian akan 'Wayang Potehi'.

Meski tidak berkaitan langsung dengan klenteng yang dia pimpin, namun Pak Mantri dengan senang hati membantu kedua siswi itu untuk menyelesaikan tugas mereka.

Bahkan penelitian tersebut mampu bersaing dengan sejumlah siswa dari penjuru sekolah di Indonesia dan menjadi juara kedua di tingkat nasional.

Pak Mantri berpesan bahwasanya keberagaman adalah aset dan kekayaan bangsa Indonesia, namun tanpa pengetahuan dan keterbukaan pemikiran semua itu akan menjadi sia-sia.

Ikuti kami di
Penulis: irfanamin
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved