Teh Gambyong Kemuning : Pengolahan Aneka Jenis Teh di Daerah Kemuning Karanganyar

Tak hanya mengolah teh, rumah pembuatan teh ini juga menjual aneka jenis teh mulai teh jahe, teh mint, teh serai, ulong, the putih dan teh hijau.

Editor: Ekayana
TRIBUNSOLOWIKI.COM/EKA FITRIANI
(kiri) Owner Teh Gambyong Kemuning Eko Wuryanto saat menjelaskan tentang pengolahan teh kepada wisatawan 

TRIBUNSOLOWIKI.COM, KARANGANYAR - Berwisata ke kebun teh kawasan Kemuning Kecamatan Ngargoyoso Karanganyar tak lengkap rasanya jika tak membeli oleh-oleh.

Teh Gambyong kemuning menjadi merek teh yang populer untuk jadi oleh-oleh saat berkunjung di kawasan Lereng Gunung Lawu tersebut.

Baca juga: Rumah Atsiri : Tawarkan Wisata Kesehatan yang Kini Populer di Tengah Pandemi

Baca juga: Gibran Maheswara Javas Setyawan : Dalang Cilik yang Aktif Pentas Hingga Malam Namun Tak Lupa Belajar

Rumah pembuatan teh ini berada di Dusun Mbadan, RT 04 RW 05, Kemuning, Ngargoyoso Karanganyar.

Tak hanya mengolah teh, rumah pembuatan teh ini juga menjual aneka jenis teh mulai teh jahe, teh mint, teh serai, ulong, the putih, the hijau higga teh hitam gambyong.

Owner Teh Gambyong Kemuning Eko Wuryanto mengatakan bahwa bisnis pembuatan teh ini sudah dilakoninya sejak 2014.

"Bisnis pengolahan teh sudah berdiri sejak 6 tahun lalu sampai sekarang," katanya kepada Tribunsolotravel.com.

"Awal kami buka bisnis ini karena saya pikir, wisatawan yang datang kok saat datang tidak ada buah tangan yang bisa dibawa pulang, lalu lahirlah Teh Gambyong ini," ujarnya.

Eko menjelaskan Teh gambyong termasuk minuman herbal yang banyak diminati orang.

Hal tersebut karena minuman ini memiliki banyak kandungan manfaat bagi tubuh.

Proses pengolahan teh gambyong pun tidak mudah, pertama-tama yaitu dengan cara memetik daun teh, setelah itu daun teh dimasukkan dipenghamparan dengan tujuan untuk mengurangi 3-5% kadar air pada daun teh.

Proses selanjutnya yaitu penggilingan, penggilingan bertujuan untuk memlintir daun teh.

Pada proses Kali ini harus sangat diperhatikan karena jika daun tidak bisa di gulung maka proses ini bisa dikatakan gagal.

Proses terakhir yaitu daun yang sudah tergulung dihamparkan ulang selama 1-2 jam dengan bertujuan untuk mengurangi warna teh dan menurunkan kadar air dalam teh.

Pengeringan dapat dilakukan dengan menggongseng, menjemur, menghembuskan udara panas, atau memanggang daun teh.

Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat agar pucuk daun teh tidak terlalu kering atau menjadi hangus.

Setelah teh siap, maka teh siap dibungkus untuk dijual.

Eko mengatakan bahwa per hari, dirinya bisa memprduksi antara 150-200 kilogram teh.

"Tapi saat pandemi ya berkurang hanya sekitar 50-75 kilogram," ujarnya.

Teh yang dijual memiliki harga yang variatif, mulai dari Rp 7 ribu-Rp 15 ribu untuk kualitas yang biasa.

Sedangkan untuk kualitas premium harganya Rp 15 ribu- Rp 50 ribu.

Selain menjual kepada wisatawan, Teh Gambyong buatannya juga dijual di beberapa daerah di pulau Jawa.

"Biasanya di Solo raya, termasuk Jogja, Semarang hingga luar kota seperti Jakarta dan Surabaya," katanya.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR
343 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved