Sejarah Tumurun Museum Solo, Pamerkan Koleksi Pendiri Sritex, Ada Mobil Dodge Tahun 1932

Ya, musium ini mamerkan sejumlah benda koleksi milik almarhum Lukminto, dan anaknya Iwan Kurniawan Lukminto. 

Penulis: Agil Tri Setiawan
Editor: Ekayana
TRIBUNSOLOWIKI/AGIL TRI
Pengunjung saat melihat koleksi di Tumurun Private Museum di Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Solo. 

Laporan Wartawan TribunSoloWiki.com, Agil Tri

TRIBUNSOLOWIKI.COM, SOLO - Kesan artistik langsung terasa saat memasuki Tumurun Private Museum di Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Solo

Kita masuk di museum, pengunjung akan langsung disambut dengan berbagai lukisan, dan mobil jenis Mercy klasik. 

Baca juga: Sejarah Stasiun Jebres, Ternyata Gegara Nama Orang Belanda Jeep Reic, Dibaca Jebres sama Orang Solo

Baca juga: Daryono : Anak Bungsu Petani Cilacap yang Kini Pimpin DPD PKS Solo

Mobil itu Mercedes Benz 600 Grosser 1972, yang merupakan koleksi Marcy pertama pendiri PT Sritex Tbk, Lukminto. 

Mobil itu sempat menemani aktivitas pendiri pabrik tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu. 

Ya, musium ini mamerkan sejumlah benda koleksi milik almarhum Lukminto, dan anaknya Iwan Kurniawan Lukminto. 

Menurut tourguide Tumurun Private Museum Aditya Nugroho, selain Marcy, ada dua mobil Dogde yang juga dipamerkan di museum ini. 

Yakni Dogde DK Sedan tahun 1932, dan Dogde D24 Town Sedan tahun 1948.

"Mobil tersebut merupakan mobil koleksi almarhum Lukminto. Sama pak Iwan dipajang di museum ini, agar masyarakat bisa melihat langsung mobil ditahun segitu," kata dia, Sabtu (6/3/2021).

Selain mobil, di museum ini juga menampilkan ratusan lukisan dari pelukis terkenal kebanggaan tanah air. 

Seperti Wedhar Riyadi, Heri Dono, Entang Wiharso, Rudi Mantofani, dan sebagainya. 

"Disini ada lebih dari 200 benda koleksi, yang terdiri dari mobil, lukisan, patung, dan lainnya," jelasnya. 

Selain lukisan dan mobil,  ada patung yang menjadi icon musium ini. 

Patung itu diberi nama Fluting Eyes, karya Wedhar Riyadi tahun 2017.

Patung itu memiliki ukuran 7x2 meter dan 3x1,5 meter. 

"Patung ini untuk mengkritik para pengguna sosial media, yang sudah tidak memiliki privasi lagi saat bermain sosial media," jelasnya. 

"Banyak orang yang bisa melihat aktivitas kita, tanpa harus mereka bertanya kepada kita. Jadi harus berhati-hati saat bersosial media," terangnya. 

Museum ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 2017 lalu. 

Meski memiliki kata private, namun arti kata itu bukan berarti musiem hanya untuk pribadi. 

"Kata private ini memiliki arti koleksi pribadi dari almarhum Lukminto, dan pak Iwan Kurniawan Lukminto," ucapnya. 

"Sementara kata Tumurun itu artinya turun temurun, atau benda yang diwariskan secara turun temurun," jelasnya. 

Disini pengunjung tak dikenakan biaya saat ingin masuk ke museum

Hanya saja pengunjung harus melakukan registrasi secara online terlebih dahulu, untuk mendapatkan nomor antrian. (*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved